Saturday, January 26, 2013

TIDAK ADA MANUSIA YANG TAK BERTUHAN




 Adalah sangat menarik buat saya, ketika ada seseorang mengatakan dirinya tidak bertuhan. Kenapa? Karena, ternyata Al Qur’an sebagai kitab suci yang kebenarannya tak terbantahkan, tidak pernah menyebut adanya manusia atheis. Yang ada ialah manusia yang tidak bertuhan kepada Allah.

Sehingga, konsekuensinya, seluruh manusia pasti bertuhan. Cuma bertuhannya itulah yang macam-macam. Ada yang bertuhan kepada patung, batu, kuburan, pohon, nenek moyang, dan lain sebagainya, seperti yang terjadi pada orang-orang tradisional zaman dulu. Meskipun, sampai sekarang masih ada juga yang mewarisi tradisi itu. Sehingga, jika Anda berkeliling ke suku tradisional di seluruh dunia, Anda akan mendapati mereka pasti menyembah tuhan-tuhan. Apa pun bentuknya.

Pada kalangan yang lebih modern, juga selalu bertuhan. Tidak ada yang tidak bertuhan. Hanya saja tuhannya bukan benda-benda tradisional itu. Melainkan yang dianggap lebih ‘masuk akal’ dan ‘bergengsi’. Misalnya, bertuhan kepada sains. Bertuhan kepada logika dan rasionalitas. Bertuhan kepada ilmuwan yang dikaguminya. Bertuhan kepada diri sendiri. Dan seterusnya. Pokoknya, apa pun namanya, setiap manusia pasti bertuhan kepada sesuatu.

Sains menjadi kecenderungan baru sebagai ‘agama’ manusia modern. Sehingga ada yang menyebut istilah: Scientology. Mereka memanfaatkan sains untuk melakukan praktek-praktek kehidupannya termasuk spiritualisme. Siapakah tuhan yang mereka anut? Adalah hukum alam dengan segala formulasi-formulasi yang terus berubah berdasar bukti-bukti empiris yang seringkali telah mengalami manipulasi.

Nah, oleh karenanya tidak ada orang yang benar-benar atheis. Yang beragama pasti punya tuhan, yang tidak beragama pun pasti punya tuhan. Tinggal, tuhannya itu siapa. Dan memiliki kemampuan yang hebat ataukah tidak… ;) Bahwa kemudian ada yang memaknai atheis sebagai menolak adanya tuhan lain, selain yang diakuinya, itu oke-oke saja. Barangkali ini semacam pembelaan diri, dan sekedar mencari teman untuk menyebut orang lain seperti dirinya yang atheis… ;)

Misalnya, karena orang Islam tidak percaya kepada tuhan Yesus, Zeus, Siwa, Wisnu, Apollo, Rha, Venus, Athena, Thor, Sidharta Gautama, dst, maka disebutlah orang-orang Islam sebagai atheis kepada tuhan-tuhan selain Allah. Itu sih benar adanya, karena sesuai dengan kalimat syahadatnya: ‘tidak ada tuhan selain Allah’. Artinya, banyak tuhan yang dianut manusia, tetapi Tuhan yang paling hebat adalah Allah.

Dengan kata lain, ini justru menjadi ‘kalimat pembenar’ bahwa memang tidak ada yang benar-benar atheis di dunia ini. Semuanya pasti bertuhan, tinggal bertuhannya kepada siapa. Dan itulah, yang memang sejak awal dikatakan oleh al Qur’an. Dan kemudian saya jadikan ungkapan dasar, bahwa tidak ada orang yang tidak bertuhan. Persoalannya tinggal, dia mengakui Allah sebagai Tuhan yang menguasai seluruh tuhan-tuhan itu, ataukah tidak.

Jadi ketika ada seseorang yang menyangkal semua tuhan, termasuk menyangkal keberadaan Allah, maka sesungguhnya dia juga telah bertuhan kepada ‘sesuatu’, selain tuhan yang tidak diakuinya itu. Diantaranya, dia telah bertuhan kepada konsep ke-atheis-annya. Atau, kepada para tokoh pencetusnya. Atau, kepada logika dan rasionalitasnya sendiri yang dikiranya sudah hebat, sehingga tidak butuh tuhan-tuhan apa pun selain dirinya.

Sementara, demikian banyak kelemahan yang ada pada dirinya, termasuk cara berpikir. Dan, begitu banyak pula hal-hal yang terjadi di luar kendalinya. Mulai dari kelahiran, kesehatan, rezeki, kesuksesan, sampai pada kematian. Demikian banyak ‘faktor X’ yang tidak bisa dikendalikannya. Dan ia menganggap semua itu hanya sebagai ‘kebetulan’ belaka. Padahal, itu justru menunjukkan kelemahan berpikir yang sangat mendasar.

Mana ada ‘kebetulan’ yang terjadi secara terus menerus dan demikian teratur. Bukan hanya dalam skala besar makrokosmos, melainkan sampai ke hal-hal yang sangat detil di mikrokosmos. Jika kita ‘open-mind’ maka kita akan dengan mudah menyimpulkan dan sekaligus ‘merasakan’ betapa di balik semua ini ada ‘Sesuatu’ yang sangat Cerdas, yang mengendalikannya dengan sangat teliti. Alam semesta dengan segala isinya tidak terjadi dan berlangsung by accident tapi benar-benar by design.

Lantas dikatakan, ‘yaah semua itu kan karena evolusi alam’. Sebuah ungkapan pembenaran yang mencari mudahnya saja tanpa mau mengkaji lebih detil. Kalaupun itu dipaksakan juga, maka berarti dia mengakui bahwa alam inilah yang memiliki ‘kecerdasan’ itu. Alam bisa mengatur dirinya sendiri. Bisa menciptakan dirinya dari ketiadaan menjadi ada. Bisa menyeimbangkan gaya gravitasi di seluruh penjuru semesta. Bisa mengadakan gaya nuklir yang menyatukan partikel-partikel, dan kemudian menjadikannya atom-atom, molekul-molekul, planet-planet, bintang dan galaksi. Dengan segala gaya gravitasi dan elektromagnetik yang mengatur peristiwa di dalamnya.

Dan lantas bisa memunculkan kehidupan di muka bumi dengan segala keteraturannya. Dan kemudian, bisa mengarahkan bumi memiliki air, punya atmosfer, punya gunung-gunung yang menyeimbangkan bumi, punya mekanisme hujan yang sangat canggih. Lantas, tiba-tiba juga bisa ‘berkehendak’ menciptakan sel tunggal yang hidup di bumi. Yang membuat para ilmuwan seluler maupun biomolekuler ‘geleng-geleng kepala’ menyaksikan kecanggihannya yang demikian menakjubkan. Dan kelak memunculkan kehidupan manusia yang berperadaban, yang demikian kompleks.

Bagaimana mungkin atom-atom yang tak punya kehendak bisa membentuk formasi H2O, lemak, protein, gula, dan berbagai nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Yang jika meleset sedikit saja, misal H2O menjadi H2O2, maka triliunan sel di dalam tubuh kita bakal keracunan dan mati massal. Dst. Dslb. Dll…

Oh, bagaimana bisa ada ‘orang berakal’ yang menyebut semua itu sebagai berjalan secara kebetulan? Tanpa adanya kecerdasan di balik segala kejadian yang demikian teratur dan akurat? Wahai, benarkah alam yang mati ini memiliki kemampuan sedemikian dahsyatnya? Wahai, benarkah alam yang mati ini memiliki kehendak dan tujuan? Dan, memiliki kekuasaan untuk mengendalikan segalanya sampai waktu tertentu? Dan bisa merespon dengan sangat cerdas semua peristiwa yang terjadi di dalamnya? Dst, dll, dlsb… :(

Orang-orang yang terkungkung di dalam ego sempit, akan mengatakan: ‘’ya, demikianlah memang alam semesta. Itu sudah given.’’ Hhehe, siapa yang memberi… :)  Atau mungkin akan mengatakan: ‘’ya memang alam ini punya kecerdasan, punya kehendak, punya tujuan, punya kekuasaan, bisa bereaksi, bisa mengendalikan, dst, dst…’’.

Nah, mulai muncul pengakuannya, bahwa alam dikendalikan oleh sebuah Kecerdasan yang Maha Hebat. Yang Kehendaknya tidak ada yang bisa melawan. Yang Kekuasannya meliputi seluruh alam semesta. Yang Ilmunya tak terbatas kedahsyatannya. Yang Akurasinya membuat kita terbengong-bengong, dst, dst, dst. Itulah Tuhannya orang Islam.

DIA adalah ‘SESUATU’ yang menciptakan alam semesta ini dari tiada menjadi ada, mengontrolnya dengan kekuasaan dan kecerdasan yang tak terukur oleh manusia, dan kelak akan melenyapkannya kembali jika saatnya tiba..!

QS. Al Hasyr (59): 22-24
Dia-lah Allah Yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Dia-lah Allah Yang tidak ada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Berkuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


~ Salam Beragama dengan Akal Sehat ~

Memulai Usaha



Anda memiliki ide bagus bisnis dan bermimpi menjadi sukses hanya dalam beberapa tahun? Nah, Susan Feldman dan Alison Pincus, pendiri situs penjualan interior eksklusif, One Kings Lane, bukti hidup semua itu mungkin. Hanya dalam tiga tahun, duo dinamis ini membangun sebuah perusahaan dengan pendapatan diperkirakan 200 juta dolar AS (sekitar 1,9 triliun rupiah). Berikut rahasia sukses memulai bisnis mereka.

Langkah 1: Mencari peluang
Saat ingin memulai bisnis, mulailah dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang kurang?" imbuh Susan Feldman, mantan Merchandising Executive, One Kings Lane ini. Saat memulai bisnis Susan melihat bahwa meskipun sudah ada toko perabot rumah di Los Angeles, ia menemukan bahwa pengalaman belanja online membuat frustasi. Dari situlah ide One Kings Lane dibuat.

Langkah 2: Mengetahui target pembeli
Pertanyaan kedua yang harus timbul: siapa pelanggan saya dan apa yang mereka butuhkan? Setelah Anda mampu mengidentifikasi siapa pelanggan Anda, baru Anda bisa memilih barang atau jasa yang mampu memenuhi kebutuhan mereka.  Alison dan Susan sadar sejak awal, bahwa pelanggan mereka adalah perempuan dengan selera yang tinggi. Dari sana, mereka mampu untuk tidak hanya membuat desain situs yang menarik tetapi juga menyediakan barang yang tepat sekaligus pengalaman berbelanja yang menyenangkan.

Langkah 3: Ikuti insting Anda
Susan dan Alison menegaskan langkah berikutnya adalah Anda harus benar-benar yakin dengan usaha yang akan Anda jalankan. Susan mengenang bahwa
One Kings Lane didirikan di tengah resesi yang terjadi di Amerika. Sebuah masa yang jauh dari ideal untuk meluncurkan sebuah situs belanja online! Meskipun begitu, Susan dan Alison merasa percaya diri dan memutuskan untuk tetap maju.

Langkah 4: Jadi yang pertama
Alison dan Susan sama-sama sepakat menjadi yang pertama di pasar adalah kunci keberhasilan mereka. Mereka menerapkan nasihat yang diberikan oleh suami mereka, bahwa yang pertama muncul di pasar sering berhasil, kedua dan ketiga biasanya hanya bertahan hidup, tapi sisanya perusahaan berkelahi habis-habisan di pasar buat meraih untung. Jika Anda memiliki ide bagus, terutama yang belum pernah dilakukan sebelumnya, pastikan bahwa Anda bekerja keras untuk meluncurkan sesegera mungkin.

Langkah 5: Mencari mitra yang sehati
Dalam menjalankan bisnisnya, Alison dan Susan bekerja keras dengan jam kerja yang panjang, terutama pada masa awal bisnis mereka. Namun, karena keduanya sama-sama bekerja didorong oleh semangat untuk berhasil sehingga satu sama lain tidak pernah timbul perasaan iri hati atau merasa bekerja lebih keras dari yang lain. Ketika bisnis berkembang, mereka memastikan bahwa semua orang yang mereka sewa sama-sama termotivasi."Penting untuk memperkerjakan orang penuh penuh gairah, inspirasi dan pintar,"ujar Susan. Jangan pernah lupa bahwa pemain yang kuat membangun merek yang kuat.



Sumber: Shine
KOMPAS.com - Anda memiliki ide bagus bisnis dan bermimpi menjadi sukses hanya dalam beberapa tahun? Nah, Susan Feldman dan Alison Pincus, pendiri situs penjualan interior eksklusif, One Kings Lane, bukti hidup semua itu mungkin. Hanya dalam tiga tahun, duo dinamis ini membangun sebuah perusahaan dengan pendapatan diperkirakan 200 juta dolar AS (sekitar 1,9 triliun rupiah). Berikut rahasia sukses memulai bisnis mereka.

Langkah 1: Mencari peluang
Saat ingin memulai bisnis, mulailah dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang kurang?" imbuh Susan Feldman, mantan Merchandising Executive, One Kings Lane ini. Saat memulai bisnis Susan melihat bahwa meskipun sudah ada toko perabot rumah di Los Angeles, ia menemukan bahwa pengalaman belanja online membuat frustasi. Dari situlah ide One Kings Lane dibuat.

Langkah 2: Mengetahui target pembeli
Pertanyaan kedua yang harus timbul: siapa pelanggan saya dan apa yang mereka butuhkan? Setelah Anda mampu mengidentifikasi siapa pelanggan Anda, baru Anda bisa memilih barang atau jasa yang mampu memenuhi kebutuhan mereka.  Alison dan Susan sadar sejak awal, bahwa pelanggan mereka adalah perempuan dengan selera yang tinggi. Dari sana, mereka mampu untuk tidak hanya membuat desain situs yang menarik tetapi juga menyediakan barang yang tepat sekaligus pengalaman berbelanja yang menyenangkan.

Langkah 3: Ikuti insting Anda
Susan dan Alison menegaskan langkah berikutnya adalah Anda harus benar-benar yakin dengan usaha yang akan Anda jalankan. Susan mengenang bahwa
One Kings Lane didirikan di tengah resesi yang terjadi di Amerika. Sebuah masa yang jauh dari ideal untuk meluncurkan sebuah situs belanja online! Meskipun begitu, Susan dan Alison merasa percaya diri dan memutuskan untuk tetap maju.

Langkah 4: Jadi yang pertama
Alison dan Susan sama-sama sepakat menjadi yang pertama di pasar adalah kunci keberhasilan mereka. Mereka menerapkan nasihat yang diberikan oleh suami mereka, bahwa yang pertama muncul di pasar sering berhasil, kedua dan ketiga biasanya hanya bertahan hidup, tapi sisanya perusahaan berkelahi habis-habisan di pasar buat meraih untung. Jika Anda memiliki ide bagus, terutama yang belum pernah dilakukan sebelumnya, pastikan bahwa Anda bekerja keras untuk meluncurkan sesegera mungkin.

Langkah 5: Mencari mitra yang sehati
Dalam menjalankan bisnisnya, Alison dan Susan bekerja keras dengan jam kerja yang panjang, terutama pada masa awal bisnis mereka. Namun, karena keduanya sama-sama bekerja didorong oleh semangat untuk berhasil sehingga satu sama lain tidak pernah timbul perasaan iri hati atau merasa bekerja lebih keras dari yang lain. Ketika bisnis berkembang, mereka memastikan bahwa semua orang yang mereka sewa sama-sama termotivasi."Penting untuk memperkerjakan orang penuh penuh gairah, inspirasi dan pintar,"ujar Susan. Jangan pernah lupa bahwa pemain yang kuat membangun merek yang kuat.



Sumber: Shine
http://female.kompas.com/read/2012/08/01/11095559/5.Langkah.Memulai.Bisnis.Sukses

Friday, January 25, 2013

Buah-buahan Langka



Sore ini saya bermain tebak-tebakan tentang nama-nama buah dengan adik saya. Ketika menyebutkan nama beberapa buah, adik saya tidak melihat buah itu. Dia bahkan tidak pernah mendengar nama-nama buah itu.

Saya sedikit bernostalgia sendiri tentang masa kecil. Bersama teman-teman mencari buah-buahan yang jatuh di pekarangan tetangga yang masih luas. Sayangnya sekarang pekarangan yang sekaligus tempat bermain kami sudah beruah menjadi rumah dan fasilitas publik lainnya.

Berikut ini beberapa buah yang menurut saya sulit untuk ditemui sekarang;

1.       Buah Buni (Wuni-Jawa)
Buni buni kecil-kecil berwarna merah, dan tersusun dalam satu tangkai panjang, menyerupai rantai (ranti). Buah buni yang matang dapat dimakan dalam keadaan segar, tetapi dapat mewarnai mulut dan jari. 
Buahnya yang mentah agak asam rasanya.
Selain dimakan segar buah ini juga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan selai dan jeli, minuman sari buah, menghasilkan anggur (alkohol), saus-asem ikan.

Begitu juga daun mudanya bisa dimakan sebagai lalap dan dimasak dengan nasi, berguna untuk memberi aroma ikan atau daging rebus (stew), baik daun muda maupun buah muda dapat digunakan sebagai pengganti cuka.

2.      Buah Sentul

Nama lain buah ini kecapi dan ketuat.
Buah buni bulat agak gepeng, 5-6 cm, kuning atau kemerahan jika masak, berbulu halus seperti beludru.  Daging buah bagian luar tebal dan keras, menyatu dengan kulit, kemerahan, agak masam; daging buah bagian dalam lunak dan berair, melekat pada biji, putih, masam sampai manis. Biji 2-5 butir, besar, bulat telur agak pipih, coklat kemerahan berkilat; keping biji berwarna merah.

Buah ini sebagai maskot (flora identitas) kota Bekasi, Jawa barat.

3.      Buah Mentega

Nama-nama lainnya buah ini adalah buah lemak (bahasa Melayu, merujuk pada daging buahnya ketika masak), sembolo (Bahasa Jawa), kamagong, tabang atau mabolo (Tagalog, merujuk pada kulit buahnya yang berbulu halus), marit (Bahasa Thai), dan velvet apple (Inggris).

Pohon ini terutama ditanam untuk buahnya, yang dapat dimakan segar atau sebagai campuran minuman dan rujak. Kayunya berkualitas baik, coklat kemerahan hingga hitam, bertekstur halus, kuat dan keras;

Saya yakin masih banyak sekali jenis buah-buahan yang “hilang” selain ketiga jenis buah di atas. Termasuk buah-buahan yang barangkali dulu ada namun saya tidak ketahui.
Ini menjadi keperihatinan tentunya karena bisa disimpulkan kedepannya makin banyak generasi baru yang semakin kurang perbendaharaan buah-buah yang bisa ditemui secara langsung.

KETIKA SAINS TAK PERNAH BISA MENJAWAB: ‘KENAPA’?





Kenapa ada alam semesta? Ya, pokoknya sudah ada ‘begini’ dengan sendirinya. Kenapa Ada pria dan wanita? Ya, pokoknya alam semesta ‘ingin’ mengadakan laki-laki dan perempuan. Kenapa ada manusia di muka bumi? Ya, pokoknya ‘ada’ karena seleksi alam. Kenapa planet bumi ini demikian ideal untuk memunculkan kehidupan, sementara di planet lain tidak diketemukan sampai sekarang? Ya, pokoknya bumi ini ‘cocok’ dan memenuhi syarat-syarat munculnya makhluk hidup..!

Hhhh.., barangkali ribuan pertanyaan ‘kenapa’ lagi yang akan dijawab ‘pokoknya’ oleh ilmu pengetahuan. Anda masih bisa menambah daftar pertanyaan itu sekreatif Anda. Misalnya, kenapa makhluk hidup kok bernafas pakai oksigen, kok nggak Nitrogen saja? Bukankah jumlah nitrogen di planet ini jauh lebih banyak dibandingkan oksigen? Kenapa kita hidup? Kenapa kita mesti mati? Kenapa kita punya kepala, mata telinga, hidung, lidah, jantung, paru-paru, dan sebutlah apa saja..! Sains tidak akan pernah bisa menjawabnya dengan tuntas. Ia akan berputar-putar semakin membingungkan… :(

Sejarah sains sudah membuktikan semua itu. Ia tidak pernah bisa menjawab misteri realitas ini dengan tuntas. Dan selalu berujung pada ‘ketidaktahuan’. Belajar makrokosmos lewat ilmu Astronomi, Kosmologi, Astrofosika, Astrobiologi misalnya, Anda akan DITANTANG oleh ketidak tahuan yang Maha Dashyat.

Dari segi ukuran alam semesta saja, manusia sudah demikian naifnya. Sebutir debu yang SOMBONG dan MENGGELIKAN, yang bermimpi menaklukkan alam semesta yang diameternya puluhan miliar tahun cahaya. Dan tidak diketahui tepinya sampai saat ini. Kecuali cuma mengira-ngira dari kejauhan. Data-data valid yang disombongkan oleh Sains bakal ‘ketemu batunya’ di alam semesta. Karena, usia manusia tidak cukup untuk mengarungi dan mengambil sampelnya.

Jangankan usia manusia, usia seluruh peradaban manusia pun tidak cukup untuk memahami alam semesta ini. Usia peradaban manusia cuma berorde ‘ribuan’ tahun. Ruang alam semesta butuh eksplorasi selama miliaran tahun. Hanya manusia yang tak tahu diri yang bisa menyombongkan SAINS sebagai segala-galanya.

Tanyakanlah kepada jagoan sains mana pun: dimanakah tepi alam semesta ini? Bentuknya seperti apa? Ukurannya seberapa? Dimensinya berapa? Dari mana asalnya, dan kelak akan kemana? Maka jawabannya tak akan pernah tuntas. Kenapa? Karena, sang ilmuwan itu tak punya kemampuan untuk mengarungi ruang dan waktu, MENYAKSIKAN sendiri evidences yang diharapkan. Sains telah berada di ‘ambang batas’ kedigdayaannya, dimana di balik itu ia sudah tidak mampu ‘berkata-kata’ lagi. Kecuali ‘menunggu’, ‘menduga’, ‘mengira’, ‘berharap’ ‘berspekulasi’, dan semacamnya, yang mengingkari kepongahan sains sendiri, bahwa  segala sesuatu harus berdasar evidences… ;)

Bukan hanya soal RUANG maha raksasa yang mewadahi alam semesta, melainkan juga soal WAKTU yang memenjarakan segala realitas ini bergerak menuju kehancurannya. Karena 'gerakan waktu' yang tak bisa dikendalikan oleh saintis manapun itulah, alam semesta bakal menuju kehancurannya. Semakin lama semakin tua, dan kemudian mati. Lagi-lagi ilmuwan yang ‘hebat-hebat’ itu tak mampu berkata apa-apa tentang kemisteriusan dimensi waktu. Kenapa? Ya, karena dimensi waktu ini terikat ke dimensi ruang, dimana ruangnya tak ketahuan batasnya. Jadi, bagaimana mungkin para ilmuwan itu bisa tahu ‘dulu’ dan ‘nanti’, kalau ia pun tidak pernah tahu ‘disana’ dan ‘disitu’.

Bukan hanya di skala makrosmos yang ‘nggegirisi’, di skala mikrokosmos pun tak kalah ‘mengerikan’. Materi yang dulu diduga tersusun dari atom sebagai benda terkecil itu, kini semakin menunjukkan ‘sifat aslinya’ yang membingungkan. Ternyata ia tersusun dari partikel-partikel yang lebih kecil, lebih kecil, dan lebih kecil lagi.

Yang di level elektron saja sudah memunculkan dualitas antara materi dan energi (gelombang). Dan di skala lebih kecil lagi memunculkan ‘teori ketidakpastian’, sehingga ilmuwan tidak pernah bisa menentukan lokasi sebuah partikel bersamaan dengan kecepatannya. Kecuali hanya ‘menebak-nebak’ secara statistik belaka. Lagi-lagi sains terbentur pada tembok ‘kepongahannya’ sendiri dalam hal evidence.

Belum lagi masalah kehidupan yang penuh dengan misteri. Tanyakanlah kepada jagoan biologi mana pun, kenapa sebutir telur ayam bisa menetas dan memunculkan kehidupan setelah dierami. Darimanakah munculnya kehidupan itu? Tolong kasih ‘bukti’ darimana sumber kehidupannya? Dan kenapa telur lainnya dari induk yang sama kok tidak menetas dan memunculkan kehidupan? Apakah alam ini hidup, sehingga bisa ‘menularkan’ kehidupannya kepada seonggok protein dan lemak yang ada di dalam cangkang telur itu? Padahal, konon kabarnya, para pengingkar Tuhan ‘tidak percaya’ kalau alam semesta ini adalah ‘organisme hidup’.

Dan seterusnya, dan lain sebagainya. Demikian banyak ‘bukti-bukti empiris’ yang justru menegaskan bahwa sains bukan segala-galanya. Tetapi, jangan lantas Anda menuding saya sebagai anti sains. Oh, malah sebaliknya, saya gandrung sekali. Dan juga, jangan lantas mengatakan Sains itu tidak berguna. Ouh, sebaliknya, sangat-sangat berguna. Karena telah terbukti banyak membantu manusia dalam mengatasi berbagai masalah hidupnya untuk menjadi lebih baik. Tapi, sekali lagi, bukan segala-galanya.

Maka, kegagalan sains bakal membawanya ke dua pilihan. Yang pertama, membiarkannya dalam kemisteriusan, sambil mengatakan: itu sudah DI LUAR kemampuan SAINS. Sehingga muncullah istilah-istilah pseudo-science – karena sains sudah tak mampu menjangkaunya dengan bukti-bukti. Atau, istilah paranormal, karena dianggap sudah keluar dari kelaziman. Atau metafisika, karena sudah tak mampu dijelaskan lagi oleh Fisika, dan lain sebagainya.

Pilihan yang kedua, kegagalan sains akan mendorongnya berlindung ke ranah filosofis, yang dari ‘rahimnya’ sains dilahirkan. Disinilah mereka ‘melarikan diri’ dari ketidak berdayaannya mengungkap realitas yang semakin misterius. Karena, setiap penemuan saintifik selalu memunculkan misteri baru yang lebih rumit. Tapi, cermatilah sejarah filsafat. Para filsuf sejak zaman dahulu kala sampai sekarang pun berputar-putar kebingungan, tak menemukan jawabannya. Kecuali mengakhirinya dengan ‘dugaan’, ‘perkiraan’, ‘harapan’, dan ‘spekulasi’ tanpa bukti.

Disinilah peran agama memberikan kepastian. Perhatikanlah ayat-ayat Qur’an yang memiliki kekuatan ‘klaim’ yang sangat besar. Bukan dogma, apalagi  doktrin. Al Qur’an tidak pernah memaksa-maksa siapa pun untuk beriman. Kalau ada yang berpendapat bahwa Islam melakukan paksaan kepada umat dalam menjalani agamanya, pasti orang itu BELUM KENAL Islam. Dia mengira Islam seperti agama-agama lain yang dikenalnya. Yang disampaikan lewat dogma dan doktrin.

QS. Al Baqarah (2): 256
TIDAK ada PAKSAAN dalam beragama (Islam); sesungguhnya TELAH JELAS jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (tuhan selain Allah) dan BERIMAN kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

QS. Yunus (10): 99-100
Dan JIKA Tuhanmu MENGHENDAKI, pastilah BERIMAN semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) MEMAKSA manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

Kurang eksplisit bagaimanakah firman Allah ini? Bahwa, TIDAK ADA paksaan dalam Islam. Tidak ada dogma dan doktrin. Yang ada ialah tabayun alias KLARIFIKASI atas firman-firman Allah. Karena, sebagaimana ayat di atas, SUDAH JELAS antara kebaikan dan keburukan, antara kebenaran dan kejahatan, antara yang bermanfaat dan yang membawa mudharat. Umat Islam diperintahkan untuk menggunakan AKAL dalam beragama.

Tetapi, bahwa Al Qur’an melakuan ‘klaim-klaim’ yang sangat provokatif itu memang benar adanya. Agar umat manusia MENOLEH. Apalagi, yang hatinya sudah KERAS seperti batu. Mulai dari klaim kebenaran kitab sucinya, kebenaran Nabinya, sampai kebenaran Tuhannya. Bukan memaksa, tetapi memancing manusia untuk memikirkannya. Berikut ini adalah sebagian kecil tantangan al Qur’an kepada manusia.

QS. An Nisaa’ (4): 82
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat PERTENTANGAN yang banyak di dalamnya.

QS. Al Baqarah (2): 23
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), BUATLAH satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

QS. Yunus (10): 37
TIDAK MUNGKIN Al Qur'an ini dibuat oleh selain Allah; (kitab ini) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, TIDAK ada KERAGUAN di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.

QS. Al A’raaf (7): 158
Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah UTUSAN Allah kepadamu semua, yaitu ALLAH yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; TIDAK ADA Tuhan  SELAIN Dia, Yang MENGHIDUPKAN dan MEMATIKAN, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".

Dan sebagainya, Al Qur’an berisi ‘klaim-klaim’ yang membelalakkan mata. Tetapi bukan untuk memaksa, melainkan ‘menantang’ untuk dibuktikan. Bagaimana cara membuktikannya? Tentu saja dengan ilmu-ilmu yang berkembang seiring peradaban manusia. Yaa ilmu sejarah, ilmu bahasa, ilmu biologi, fisika, astronomi, matematika, kimia, kedokteran, biomolekuler, dan ilmu apa saja yang bisa digunakan untuk ‘membuktikan’ kebenaran Al Qur’an.

Bukan ‘rebutan mengklaim’ sains, seperti yang dituduhkan. Karena perintah untuk berilmu pengetahuan itu adalah sebuah KENISCAYAAN di dalam agama Islam. Dan pelakunya tidak harus orang Islam. Di zaman keemasan Islam para pelaku kelilmuan itu adalah orang-orang Islam. Tetapi, di zaman sesudahnya memang SDM Islam mengalami kemunduran yang sangat memprihatinkan. Tetapi, itu tidak serta merta menjadikan AGAMA Islam lantas ‘merebut-rebut’ sains… :(

Tentu ini sudut pandang yang sangat keliru. Karena puluhan bahkan ratusan ayat di dalam Al Qur’an justru mendorong umat Islam untuk menguasai sains. Sebagaimana sudah saya tulis dalam puluhan buku yang saya terbitkan. Untuk apa? Bukan untuk ‘berpongah-pongah’ dengan sains yang serba terbatas itu. Melainkan untuk membuktikan dan menyadari ‘betapa kecil’ dan ‘ringkihnya’ manusia, dan betapa Maha Hebatnya Allah Sang Penguasa Jagat Semesta dengan segala Ilmu-Nya. Islam mengajari umatnya untuk ‘mentauhidkan’ ilmu pengetahuan agar mengenal dan tunduk pada Keagungan-Nya…!

QS. Ath Thalaaq (65): 12
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, AGAR kamu MENGETAHUI bahwasanya Allah MAHA BERKUASA atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ILMU-Nya benar-benar MELIPUTI segala sesuatu.

~ Salam Mentauhidkan Ilmu Pengetahuan ~