Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

Do’a Mamat



Pagi yang sejuk itu tampak beberapa orang tengah melakukan jalan-jalan pagi. Olah raga pagi di akhir pekan sangat dinantikan bagi sebagian masyarakat Jakarta untuk sekadar menghilangkan penat karena berbagai aktivitas. Udara segar sangat langka ditemui di ibu kota itu setidaknya mampu merefresh otak mereka.

Mamat dan kakeknya merupakan bagian dari mereka. Mamat yang masih duduk di bangku SD itu bersama kakeknya melintasi kawasan mega kuningan Jakarta selatan. Mereka melihat beberapa petugas keamanan berjaga-jaga di sekitar puing-puing reruntuhan bangunan.

Mamat berhenti. Ia menatap dalam-dalam bangunan itu dari seberang jalan. Ia tampaknya mempunyai segudang pertanyaan atas bangunan yang terkoyak bom beberapa hari sebelumnya.

Sang kakek melihat cucunya. Ia mendekat dan berkata, “Itu hotel JW Marriot yang sering muncul di televisi akhir-akhir ini.”

Bocah berusia tujuh tahun itu bertanya, “Bangunan bagus kok dihancurkan ya Kek?.”

“Itu merupakan ulah teroris yang selalu membuat kerusakan dan menimbulkan ketakutan bagi orang lain.” Papar kakek.

“Katanya perbuatan itu dilakukan untuk membasmi kemaksiatan?.” Sergah Mamat setelah mengutip pendapat seorang komplotan pelaku yang berhasil ditangkap yang disiarkan di televisi.

Kakek tersenyum, “Mamat, niat baik itu harus dikerjakan dengan cara-cara yang baik pula.”

Sang kakek yakin, apapun tujuan kelompok yang melakukan pemboman ini, tindakan seperti itu merupakan suatu bentuk kekejian yang meresahkan banyak pihak. Meski sasarannya adalah orang-orang tertentu, namun kenyataannya banyak orang yang tidak bersalah ikut menjadi korban.

Mamat sering mendengar kegiatan teror dihubungkan dengan agama islam. Segelintir orang merasa bangga dengan aksi yang mereka anggap sebagai jihad.

“Kok banyak sekali ya Kek orang-orang mengatasnamakan ajaran agama untuk mengebom?.” Kejar Mamat.

Dengan sabar kakek menjelaskan.
“Agama Islam adalah agama yang suci dan sejuk. Dalam menyampaikan ajaran agama tidak ada unsur paksaan dan sangat menghindari pertumpahan darah. Itulah yang dilakukan Rasulullah ketika berdakwah. 

Namun sayang sekali agama yang damai dan rahmatan lil alamin ini malah dikotori oleh orang-orang yang mengaku umat yang taat.”

“Terus, para pelaku kerusakan itu mengaku telah berbuat kebajikan. Dan yakin akan masuk surga, gitu?.” Mamat yang tampak belum puas.

“Begini Cu, masuk surga atau tidak seseorang itu tergantung keputusan Allah, tuhan yang maha adil. Kita tidak boleh menganggap masuk surga karena semata-mata amal kita. Nikmat yang diberikan kepada kita di dunia ini masih jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan ibadah yang selama ini kita kerjakan. Jadi rahmat Allah lah yang sebenarnya mengantar kita masuk surga-Nya. Untuk itu jangan sombong dengan ibadah kita. Apalagi berbangga dengan perbuatan yang menyengsarakan banyak orang.” Papar kakek bijak.

Mamat merenungkan perkataan kakeknya. Ia terus berpikir dengan gejolak yang ada di benak pikirannya.

“Kata ustadz Syaiful, kita harus senantiasa ber-amar ma’ruf nai munkar. Tapi tempat-tempat maksiat kok semakin banyak?.”

“Nah itulah yang menjadi tugas pemerintah dan ulama’ kita. Mereka harus bekerjasama dan saling mendukung satu dengan yang lainnya. Bukan malah saling menjatuhkan. Karena sebagai pilar, rapuh tidaknya suatu Negara tergantung seberapa besar peran mereka.”

Sang kakek mengusap lembut kepala Mamat dan bertanya, “Kira-kira apa do’a Mamat untuk Negara kita?.”

“Mamat berdo’a semoga umat Islam bisa rukun dan saling menyayangi antarsesama muslim, serta saling menghormati dan menghargai dengan pemeluk agama lain. Sehingga kita akan saling membantu untuk memajukan Indonesia.” Celetuk bocah lugu itu.

Harapan Mamat terlihat sederhana, yang barangkali semua orang tidak kesulitan memahaminya. Namun itu akan sulit terwujud jika masing-masing kelompok menganggap dirinya paling benar, paling suci dan dengan mudahnya menyalahkan golongan lain walaupun sesama muslim.



“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (Q.S Ibrahim [14] : 35)

Saturday, September 1, 2012

Dilema Buah Delima



Pagi begitu indah. Salah satu episode dalam rangkaian zaman yang terus menerus berputar, berpola, dan berulang-ulang dalam kontinuitas waktu. Pagi akan bertemu siang, siang akan berjumpa sore, sore akan berganti malam, dan malampun akan masuk ke dalam selimut pagi.


Di kala matahari muncul mengawali hari, nuansa terasa indah, sejuk, dan sahdu. Burung-burung, serangga, dan dedaunan yang tersapa angin turut menghiasi dengan fitrahnya.
Betapapun cerahnya gambaran alam itu, bukan berarti akan berlaku hal yang sama pada perasaan manusia yang melewatinya. Sebuah gejolak yang ada dalam hati tidak selalu bisa diselaraskan dengan suasana lingkungan.


Gemuruh dalam kesunyian, itulah fenomena dalam hatinya. Arif masih termenung. Pikirannya berlarian dalam tubuh diamnya. Matanya hanya menyorot sebatang pohon delima. Pohon yang buahnya sangat mengusik perasaan Arif.


Arif terus menerus memandanginya dengan bibir getir.


“Ambil saja buah itu, sangat mudah, dan nggak perlu usaha keras...”

“Jangan!!! itu bukan hak mu...”

“Bodoh kamu, tunggu apa lagi, mumpung pemiliknya nggak ada...”

“Jangan!!! Itu bukan hak mu...”


Sisi hitam dan putih hatinya terus berperang. Tubuh bocah usia sepuluh tahun itu hanya diam tak bergeming. Ia bak patung yang duduk di atas bangku yang terbuat dari kayu.


Saat kemelut masih menyelimuti hatinya, ia dikagetkan oleh seorang kakek yang tiba-tiba muncul dari belakang.


“Assalamu’alaikum Nak...” Sapa sang kakek.

“Wa’alaikumsalam...” jawab Arif.


Belum selesai kebingungannya, perasaannya semakin runyam dengan kehadiran seorang kakek yang belum pernah ditemui sebelumnya.


Sang kakek kemudian duduk di bangku yang sebelumnya hanya ditempati Arif.


“Kakek lihat kamu tampak murung Nak...”

Arif hanya menjawabnya dengan helaan nafas panjang.


Ia tidak menginginkan sang kakek mengetahui keinginannya. Biarlah impian makan buah delima terkurung di lubuk tersempit hatinya.


“Jadi kamu ragu untuk mengatakannya ya Nak...” Ucap kakek.

Arif terdiam, ia mencuri pandang menatap wajah kakek yang berjenggot putih tersebut.


“Memang dalam hidup adakalanya harus menjalani episode yang unik, kita terkadang malu mengutarakan pada hal yang sebenarnya sangat kita harapkan.” Lanjut sang kakek.


Mereka terdiam sejenak.


“Dari tadi engkau memandangi buah delima setengah matang itu. Apa kamu menginginkannya?.” Tanya kakek.


Dengan segenap kekuatan batinnya Arif menganggukkan kepala.


“Aku sangat mengharapkan buah delima itu menjadi milikku Kek.” Kata Arif dengan wajah merunduk.


“Kenapa Nak?” Kejar kakek.


“Ada dorongan kuat di hatiku untuk menikmati buah itu.” Ungkap Arif.


“Hanya itukah alasanmu.”


“Maksud kakek?”


“Bukankah kamu pernah memakan buah serupa sebelumnya. Bahkan di pasar dekat tempat ibumu jualan banyak orang berjualan buah delima. Bahkan lebih besar dan lebih masak dari delima itu.”


“Tapi aku ingin sekali delima itu.” Rengek Arif sembari menunjuk buah delima yang menggantung indah di pohonnya.


“Buah itu milik pak Ahmad, jadi bukan hakmu untuk memetiknya”


“Tapi kek, beliau nggak akan marah kok, karena masih ada pohon delima yang lain yang juga sedang berbuah.”


“Apa kau yakin seperti itu?. Pak Ahmad dengan telaten menanam pohon itu dari kecil. Setiap hari beliau merawat dan menyiraminya. Lalu sekarang kamu hendak mengambilnya dengan cara yang tidak baik”


“Aku ingin memetiknya sekarang. Aku yakin beliau nggak akan marah.”


“Sabar dulu Nak, pak Ahmad akan lebih senang jika engkau memetiknya ketika sudah siap untuk dipetik.”


Arif masih belum bisa menerima nesihat sang kakek.


“Coba pertimbangkan, dampak buruk apa yang akan terjadi jika kau memetiknya sekarang. Pernah kau memikirkannya?”


Arif hanya menggeleng.


“Pertama pak Ahmad akan sedih dan menyayangkan akan tindakanmu itu. Karena sesuatu yang sangat ia sayangi kau ambil dengan cara yang tidak patut. Itu artinya engkau mendholimi orang lain. Padahal selama ini pak Ahmad banyak berbuat baik padamu dan mempercayaimu untuk bermain di kebunnya.”


“Kedua kau akan dirugikan dengan tindakanmu sendiri. Coba bayangkan jika kau memakan buah yang belum masak itu. Bisa jadi kau akan sakit. Ketika sakit sederet permasalahan akan timbul. Orang tuamu akan sedih, sekolahmu akan terbengkalai, adik-adikmu akan kehilangan teman untuk di ajak bermain, dan segala aktivitasmu akan terhenti. Semua amanah yang menjadi tanggung jawabmu tidak akan bisa kau laksanakan. Dengan demikian, kau tidak akan mempunyai prestasi dan pada akhirnya akan menenggelamkan masa depanmu sendiri.”


“Satu lagi, teman-temanmu dan orang-orang di sekitarmu akan menyesalkan tindakanmu. Disadari atau tidak kau jadi perhatian lingkunganmu Nak, karena kau dikenal sebagai anak yang baik. Apakah kamu mau mengecewakan semuanya?.”


Arif berkaca-kaca. Ditarik ujung bajunya untuk mengusap air mati yang mulai mengalir.


“Apa yang harus saya lakukan dengan keinginanku ini Kek?.” Tanya Arif.


“Sabarlah nak, bagaimanapun kondisi di hatimu, tetap gunakanlah akal sehat sebelum bertindak.”


“Janganlah khawatir, jika buah delima itu ditakdirkan menjadi milikmu. Kapanpun dan bagaimana alurnya pada akhirnya akan menjadi milikmu. Allah maha adil, kalau memang itu bukan milikmu. Pasti gantinya adalah yang terbaik untukmu dan untuk orang-orang sekitarmu”


“Anakku engkau masih sangat muda. Dan masih lugu. Namun bukan berarti setiap tindakannya tidak perlu ada pertimbangkan.”


“Biasakan berfikir jernih dengan hati bersih ketika akan memutuskan sesuatu. Persiapkan masa depanmu yang masih panjang. Jangan engkau korbankan masa depanmu dengan hal yang tidak tidak sepantasnya untuk dilakukan.”


Wajah Arif tampak lebih segar, senyum dibibirnya sudah mulai mengembang.


“Baik Kek, aku akan berusaha terus bersabar, dan membiasakan menggunakan pikiran sehat sebelum bertindak “


“Meskipun sekarang kamu sadar, bukan berarti kamu bebas godaan di waktu yang lain. Untuk itu teruslah berdo’a kepada Allah memohon agar dibimbing hati dan kehendak-kehendak yang muncul darinya.”


“Iya Kek, terima kasih banyak atas nasihat-nasihatnya.”


Terlihat buah delima dengan warna yang menarik masih menggantung indah di pohonnya. Keindahan ciptaan ilahi yang melengkapi pagi. Masih banyak perbendaharaan keindahan karunia Allah yang mengandung anugerah dan di sisi lain merupakan cobaan. Arif terus berharap agar keindahan-keindahan alam tidak memalingkan dirinya dan lupa dengan keindahan sejati penciptannya.



Friday, August 24, 2012

Tuhan Maha Lembut




“Wow! benarkah?” tanya Ubed.

Ubed mencoba terus mendengarkan Ivan bercerita. Sudah hampir satu jam Ivan bercerita panjang lebar. Ivan adalah teman yang baru ia kenal dua hari lalu. Ia bertemu pertama kali di rumah kosnya. Perbincangan itu terjadi saat Ivan berkunjung untuk kali kedua di tempat yang ia tinggali.

Dalam obrolan santai itu, Ivan selalu mendominasi. Namun Ubed mencoba mengontrol raut mukanya agar tetap terlihat biasa.

Sesekali Ubed menambahi cerita atau sekadar mengekspresikan ketakjubannya. Sebenarnya cerita Ivan sungguh membosankan baginya. Pembicaraan yang terlalu self-centric itu membuatnya muak. Memang bukan perkara yang aneh ada seseorang yang mendominasi dalam suatu obrolan. Mendominasi menunjukkan antusisme. Tapi jika  hanya itu yang dilakukan Ivan, tentu saja Ubed tidak akan merasa panas telinganya. Hal yang membuatnya harus meninggalkan percakapan itu adalah sikap Ivan yang terkesan menuturi atau menceramahi. Sehingga orang-orang disekelilingnya tampak bodoh.

Ubed mulai mencari cara untuk bisa keluar. Pandangannya menyapu benda-benda sekelilingnya. Ia berharap ada sesuatu yang bisa membantunya. Setelah menyisir meja yang ada di hadapannya, matanya terhenti pada benda berbentuk kotak kecil yang sudah sangat akrab dengan manusia. Ya, handphone memang alat yang reasonable untuk melepaskan kita dari situasi yang kurang mengenakkan. Bisa sekadar melihat jam, mengecek SMS masuk, pura-pura browsing,  atau berlagak seolah-olah  menerima telpon.
Ia pencet tombol merah yang berada di ujung kanan atas. Di sana terbaca pukul 16.00. 

Sambil senyum,

“Sorry, aku pamit dulu.” Kata Ubed.

Ivan dan yang lain mempersilakannya. Ia segera menuju kamarnya.

Sesaat ketika ia terpisah dari perbincangan itu, Ubed terdiam. Ia terpaku dalam duduknya. Nampaknya ia memikirkan sesuatu. Sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

“Astaghfirullah...” ucapnya.

Tiba-tiba ia merasa begitu bersalah.Ia membandingkan apa yang baru ia rasakan dengan teman-temannya. Ia mencoba memikirkan apa yang dirasakan teman-temannya ketika ia bercerita seperti Ivan. Barangkali orang lain merasakan seperti yang ia rasakan.

Tuhan memang maha lembut seperti salah satu namanya Al-latif. Dia kerapkali mengingatkan dengan cara-cara yang sangat halus. Hingga hal itu tidak akan disadari tanpa sedikit perenungan mendalam.

Ubed berfikir ini adalah teguran Allah kepadanya jika barangkali ia juga suka mendominasi, suka melebih-lebihkan cerita, dan sering membanggakan diri dalam bercerita.

Friday, August 17, 2012

Tong Sampah Di Negeriku


“Prok...prok...prok...”
Suara langkah kaki mendekatiku. Harapanku tetaplah sama seperti sebelumnya. Berharap ada seseorang yang memasukkan sesuatu di dalam perutku. Hari-hariku kerap dipenuhi kenyarisan. Puluhan benda-benda sisa keperluan mereka hampir menjadi makananku. Namun seringkali tidak jadi.

Aku menunggu orang itu menghampiriku. Membuka topiku dan menjatuhkan bungkus makanan yang ia bawa ke dalam perutku.

Ah, ternyata masih sama. Orang yang terakhir melintas hanya melemparkan selembar plastik di bawahku. Aku heran dengan orang-orang sini. Aku dibuat oleh mereka untuk digunakan. Mereka mengecatku dengan warna yang indah dan tulisan-tulisan sebagai penanda di tubuhku. Mereka pun berharap kebersihan lingkungan dengan keberadaanku di sudut-sudut kota. Namun tidak berfungsinya diriku ibarat seonggok rongsokan yang terletak di tepi jalan.

Tubuhku mulai lemas. Terik matahari membagikan panas dengan diriku. Gelitikan angin berhembus tak mampu membuatku tersenyum.

Sudah beberapa hari ini perutku memang tak terisi. Setumpuk makanan hanya tergeletak beberapa centimeter saja di dekat kakiku. Andai aku punya tangan, kuraih benda tak berguna itu lalu kumasukkan lewat kepalaku. Atau jika kakiku bisa bergerak, aku akan lari menuju teman-temanku yang berada di negeri seberang. Dan aku tidak akan semenderita ini tentunya.

Terkadang aku iri dengan teman-temanku di negara-negara lain. Di Jepang, masyarakatnya begitu menyayangi benda-benda sepertiku. Mereka memanfaatkanya dengan sangat baik. Teman-temanku hidup teratur. Mereka bahkan mempunyai jadwal bervariasi setiap harinya.

Tidak hanya di negeri olahraga sumo itu berasal, kawan-kawanku  di Singapura pun turut bahagia. Masyarakat yang begitu memperhatikan lingkungan menjadikan fasilitas sepertiku tak pernah berpuasa. Teman di Amerika Serikat, kawan di negara-negara Eropa, dan sahabat di Selandia Baru tak akan merintih karena pembiaran seperti diriku. 

Apa sih bedanya diriku dengan mereka. Apakah hanya sekadar bentuk ataukah perkara tempat di mana kami diletakkan. Ataukah karena arogansi masyarakat dengan sikap acuh dan ketidakpedulian mereka terhadap bumi mereka sendiri. 

Aku hanya bisa menangis. Menangis bukan hanya kesedihan nasibku. Aku pun menangis juga karena rasa ibaku terhadap kebodohan orang-orang sekitarku.  Kelalaian mereka dengan lingkungan. Dan kebiasaan buruk mereka. Benda yang seharusnya mereka letakkan di dalam perutku tergeletak, berserakan, bahkan berenang bebas di sungai-sungai mereka. Mereka lupa bahwa bencana banjir siap mengancam diri dan keluarga mereka. 

Kecerobohan terhadap makanan-makananku adalah awal malapetaka bagi mereka.  
Coba bayangkan seberapa besar kerugian jika bencana itu terjadi. Rumah-rumah hanyut. Berbagai fasilitas umum rusak. Dan tak jarang nyawapun menjadi bayaran karena ulah mereka. 

Sebenarnya pemerintah di negeriku cukup peduli. Mereka mempunyai tim kebersihan. Truk-truk yang gagah pun mereka miliki. Area pembuangan akhir terbentang luas. Dan slogan-slogan himbauan yang tak kalah dengan calon legislatif terpajang di perempatan kota. Mereka masih bekerja. 

Namun slogan-slogan itu hanya omong kosong layaknya kebanyakan janji-janji para politikus di masa kampanye jika tiada gerak realisasi. Atau tidak akan maksimal jika hanya bergerak di satu sisi. Pemerintah dan masyarakat ibarat sepasang roda kendaraan. jika hanya satu roda bergerak, kendaraan tidak bisa jalan. Barangkali hanya bisa berputar-putar di tempat. Tidak ada progess. Dan kerap sia-sia. 

Aku masih termenung dalam kegelisahanku. Aku berdiri pucat di antara lalu lalang orang. Orang-orang tak peduli dengan kondisiku, bahkan kondisi mereka sendiri tak tahu. Tak sadar akan potensi yang mengancam mereka. 

Terpaan angin sesekali menggoyang-goyang tubuhku. Ia semakin bebas membuatku berayun-ayun. Barangkali ini kesempatan baginya untuk mempermainkanku. Tiada pemberat lagi di dalam tubuhku. Aku kesepian, kosong, lapar . Dan aku sekarat.