Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Tuesday, February 5, 2013

Pentingnya Management Dalam Hidup


oleh : Tung Desem Waringin

Mengatur kehidupan diperlukan demi tercapainya tujuan hidup karir, bisnis maupun keuangan Anda. Management hidup berperan penting untuk membuat kehidupan Anda benar-benar berarti.


Arti hidup penting, tapi management hidup itu no.1.

Arti HIDUP itu apa? Dan biasanya kebanyakan orang tidak pernah memikirkannya! YA atau YA?
Nah, jika Anda Memanagement Hidup Anda dengan arti yang berbeda maka perasaan Anda juga akan ikut berbeda. Kalau perasaan Anda berbeda, maka tindakan Anda pun akan berbeda. Jika tindakan Anda berbeda, hasilnya juga berbeda. Dan jika hasilnya berbeda, maka nasibnya berbeda. Kalau nasibnya berbeda, maka hidupnya pun berbeda.

Jadi, di sini setiap orang mempunyai definisi hidup yang berbeda- beda. Jika Anda beranggapan hidup itu penuh dengan perjuangan, maka kehidupan Anda selamanya hanya berjuang. Memangnya enak kalau berjuang terus dan Anda tidak menikmati hidup? Disini Anda hanya berjuang terus menerus. Mungkin tidak ada yang salah dalam hal ini, namun definisi Anda menggambarkan kehidupan Anda untuk sekarang dan untuk kedepannya.

Oleh karena itu, berhati- hatilah terhadap definisi hidup tersebut. Anda memberikan arti hidup yang Anda inginkan. Dan jika Anda salah dalam memberikan arti hidup maka Management Nomor satu sudah Gagal Total. Yang paling pertama dalam mengatur hidup, Anda harus bisa memberikan arti hidup itu yang seperti apa dan hidup itu adalah… (Anda bisa menjawabnya dengan jawaban Anda sendiri).

Jika Anda sudah memberikan arti salah dalam hidup Anda, maka emosi Anda akan salah. Kalau emosinya salah, maka tindakan akan salah. Kalau tindakan Anda salah, hasilnya salah. Kalau hasilnya salah, maka nasibnya Salah. Dan jika nasib Anda salah, maka hidup Anda akan salah.

Jadi disini, Andalah yang menentukan hidup Anda akan seperti apa dan bagaimana. Jika Anda salah dalam memberikan arti, maka untuk kedepannya kehidupan Anda akan salah. Di sini, Anda juga yang menentukan definisi dari kehidupan Anda itu sendiri. Ini adalah langkah nomor satu dalam management hidup.

Akhir kata, semoga artikel ini membawa pemahaman bermanfaat untuk Anda dalam mengatur segala segi kehidupan Anda menuju perubahan hidup yang Anda harapkan.


Thursday, January 24, 2013

Strategi Nabi Muhammad SAW

Teladan Nabi Muhammad Saw dalam proses membangun Trust.

Sekitar 25 tahun lamanya Muhammad Saw berkiprah di bidang bisnis. Beliau telah meletakkan dasar-dasar etika dan moral, yang mencakup manajemen dan etos kerja yang mendahului zamannya. Prinsip-prinsip bisnis yang diwariskan Nabi Muhammad Saw dalam membangun kepercayaan publik telah mendapatkan pembenaran akademis sejak penghujung abad ke-20 atau awal abad ke-21. 

Masih berkenaan dengan upaya Nabi Muhammad Saw dalam membangun kepercayaan dalam bisnis dan muamalah, Machda (2008) mengemukakan bahwa:

Pertama, Muhammad membangun hubungan interpersonal yang amat berkesan di mana pun beliau berada. Beberapa sikap yang penting, antara lain, raut muka yang selalu tersenyum dan memancarkan persahabatan. Beliau selalu menunjukkan fokus perhatian kepada siapa saja yang diajak atau mengajak berbicara. Walau dalam waktu sesaat, Nabi mampu mengingat nama maupun masa lalu dari mitra yang dijumpainya. Muhammad Saw mampu mengangkat suasana menjadi ceria dan mendorong sikap untuk saling mendukung antarsesama sehingga tercipta kondisi optimisme meskipun dalam situasi serba berkekurangan.

Kedua, Muhammad Saw mampu menjelaskan setiap adanya perbedaan cara pandang dan menghargai perbedaan tersebut. Secara pelan tapi pasti, beliau mampu membawa mereka yang berbeda pandangan untuk melihat dari sisi lain, dan menghargai persepsi yang beragam. Dengan perkataan lain, beliau dapat mengarahkan lawan debatnya tanpa terasa dan meyakinkan ke sasaran positif yang diinginkan.

Ketiga, Muhammad Saw mampu menciptakan kepastian, tidak hanya berupa angan-angan normatif. Beliau memperlihatkan sikap menghargai waktu dan tidak mudah obral janji, memperlihatkan kesediaan untuk berkorban, dan tidak hanya mengedepankan kepentingan diri sendiri. Bersama Muhamamad Saw, orang-orang merasa terjamin kepastian masa depannya, meningkat sense of certainty-nya. Pada suatu zaman yang penuh ketidakpastian dan berkembang suasana saling berkhianat, kehadiran sosok yang dapat dipercaya dan diandalkan menjadi dambaan.

Demikianlah di antara sikap dan perilaku Nabi dalam membangun dan mempercepat tumbuhnya kepercayaan dari konsumen, mitra bisnis, serta khalayak luas.

Penulis : Muhammad Syafi'i Antonio

Wednesday, January 23, 2013

Hidup dalam Keseimbangan


 oleh : Muhammad Syafii Antonio

Nabi Saw menghendaki agar umatnya hidup dalam kewajaran dan keseimbangan. Tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, tidak pula mempersulit kehidupannya sendiri. Sebuah riwayat menceritakan, beberapa sahabat Nabi memutuskan untuk berpuasa sepanjang hari dan tidak tidur pada malam harinya. Mereka hanya melakukan shalat; tidak makan daging atau makanan sejenisnya, serta tidak mendekati wanita (istri). Ketika mengetahui hal tersebut Nabi Saw berkata, ‘Aku tidak perintahkan untuk melakukan hal-hal semacam itu. Kalian memiliki kewajiban terhadap diri kalian sendiri. Jika kalian dapat berpuasa dan kadang-kadang tidak tidur pada malam harinya, aku tidur dan juga shalat. Kadang-kadang aku berpuasa dan kadang-kadang tidak, aku juga makan daging dan mentega. Maka barang siapa yang tidak mengikuti cara hidupku (sunnahku) dia tidak ermasuk golonganku.”

Nabi Saw melanjutkan, “Apa yang telah terjadi pada orang-orang ini? Mereka melarang pergaulan dengan wanita (istri), makanan yang enak, parfum (wewangian), tidur dan hal-hal baik lainnya bagi mereka di dunia ini. Aku tidak pernah mengajarkan kalian untuk bertapa; dalam agamaku, tidak ada pantangan terhadap wanita, daging, dan juga tidak ada asetisisme. Untuk pengendalian diri, ada puasa dan jihad yang mengandung segala kebaikan asetisisme. Beribadahlah pada Tuhan dan lakukanlah tugas-tugas dan agama, yaitu haji, shalat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadhan dan sebagainya. Orang-orang sebelum kalian telah dimusnahkan, karena mereka (yaitu, bersikap ekstrem) dan pada akhirnya terjebak hukum alam (karena mereka menentang hukum alam) dengan bersikap ekstrem. Para pertapa itu adalah keturunan mereka” (HR. Bukhari).


Hadits ini menerangkan prinsip-prinsip Islam yang membenarkan kenikmatan duniawi selama dalam batas-batas tertentu dan tidak berlebihan. Hadits tersebut menekankan pula pentingnya keseimbangan dalam hidup. Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda “Yang terbaik dari kalian adalah orang yang tidak mengabaikan dunia demi mengejar Hari Akhir, atau mengejar Hari Akhir demi dunia ini, dan tidak menjadi beban bagi orang lain.”

Nabi Saw menolak seluruh konsepsi agama yang salah yang dibentuk oleh sebagian orang demi memenuhi kepentingannya sendiri. Nabi juga menyatakan bahwa agama tidak mengajarkan kebencian terhadap dunia. Kebencian terhadap dunia tidak serta merta membuat seseorang menjadi saleh. Nabi Saw berdoa untuk kemakmuran para pengikutnya seperti digambarkan dalam hadits ini; “Ya Allah, orang-orang ini tidak mempunyai alas kaki (tidak juga kuda atau unta untuk kendarannya), berilah mereka (kuda atau unta) untuk dikendarai; Ya Allah, orang-orang ini tidak mempunyai pakaian (telanjang); maka berilah mereka pakaian. Ya Allah, orang-orang ini dalam keadaan lapar, maka berilah mereka makanan”. (HR. Abu Dawud).


Menelaah doa yang dipanjatkannya itu, kian  jelaslah bahwa Nabi Muhammad Saw menginginkan supaya umatnya hidup dalam kecukupan. Bukan dalam kondisi yang serba kekurangan atau kemelaratan.

Tuesday, January 22, 2013

APAKAH KAMU MEMPERHATIKAN BAHWA ALLAH MENCIPTAKAN UNTUKMU KEINDAHAN-KEINDAHAN YANG TIDAK KAMU SANGKA?


oleh Harun Yahya

Kebanyakan orang akan membuat pernyataan yang kira-kira sama tentang “kehidupan di dunia”. Biasanya mereka menggambarkannya sebagai sebuah siklus yang monoton, yaitu tersusun dari rutinitas-rutinitas dan harapan-harapan. Tentunya, pandangan mereka tentang hidup sangat merefleksikan gambaran ini. Diinginkan atau tidak, mereka terbiasa dan beradaptasi dengan semua yang dijalaninya itu. Mereka bertindak seolah-olah telah kehilangan gairah, mengartikan semua keindahan sebagai susunan-susunan biasa yang sudah semestinya terjadi dalam kehidupan. Karena alasan ini mereka tidak dapat memperhatikan keindahan dan sisi lebih mereka.

Dalam Al-Qur’ân Allah menggambarkan situasi mereka sebagai berikut:

“Dan ingatlah pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (seraya dikatakan kepada mereka), “kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu, dan kamu telah bersenang-senang menikmatinya, maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan, karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran, dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah).” (QS. Al-Ahqâf, (46):20)

Allah menceritakan bahwa di hari akhirat Dia tidak akan mencurahkan keberkahan kepada mereka yang mendekati keindahan, kebaikan, dan peristiwa-peristiwa menyenangkan dalam kehidupan dengan ketidakpedulian, dan Allah tidak akan terpengaruh oleh mereka.

Pandangan orang-orang mu’min tentang kehidupan di dunia sungguh berbeda dari mereka yang merasakan peristiwa dalam ketidakpedulian. Bagi orang mu’min, “kehidupan di dunia” penuh dengan kejutan, keindahan, kebaikan, dan kebijaksanaan. Kenyataan bahwa Allah melingkupi mereka dengan perwujudan keindahan perbuatanNya yang tak terhingga dan sifat-sifat luhurNya yang khas, membuat orang-orang mu’min menjalani kehidupan dengan penuh gairah dan antusias. Setiap saat mereka merasakan kesenangan dalam mengenal keindahan lainnya yang Allah ciptakan dan perwujudan rahmatNya yang tidak terhingga.

Mereka yang tidak beriman benar-benar tidak peduli atas anugrah yang begitu besar ini dan mereka dicabut darinya. Karena setiap saat Allah menciptakan keindahan-keindahan yang tidak disangka–beserta detailnya–yang hanya dapat dirasakan dengan keyakinan (iman) dan hati nurani. Bersama peristiwa ini–yang hanya dapat dilihat oleh mereka yang memiliki keyakinan–Allah membuat hamba-hambaNya merasakan kedekatanNya pada mereka. Merasakan kedekatan ini adalah sebuah kebahagiaan dan keberkahan yang besar bagi seorang mu’min.

Terkadang muncul sesuatu yang tampaknya biasa, peristiwa sehari-hari yang terdapat dalam pikiran seseorang; terkadang menerima pemberian melalui cara yang tidak diduga yang–sebelumnya–diharapkan seseorang dalam doa; terkadang menemui peristiwa menyenangkan yang telah ditakdirkan oleh Allah, itu semua merupakan keberkahan yang amat besar, nutrisi bagi pikiran dan perantara untuk dapat mendekatkan diri pada Allah.

Dalam Al-Qur’ân Allah mengingatkan hamba-hambaNya yang ikhlas mengenai rahmatNya yang tidak terbatas pada seluruh manusia; menunjukkan bahwa Dialah Pelindung dan Penolong yang sesungguhnya, dan Dia menjawab doa hambaNya yang tulus. Oleh karena itu, seorang mu’min selalu sadar akan perwujudan rahmat Allah. Bahkan dalam wujud cobaan dan kesulitan pun ia mengetahui bahwa ini merupakan keindahan (nikmat) yang diperuntukkan baginya. Akan tetapi, Allah juga menciptakan keindahan-keindahan tertentu–yaitu tanda-tanda yang menunjukkan ketetapan dan perincian–yang akan menghilangkannya dari cara pandang yang biasa, sehingga ditakjubkan dan dianugrahinya suatu keyakinan yang kuat. Pada masing-masing peristiwa ini, seorang mu’min merasakan kenikmatan dalam menyaksikan perwujudan rahmat Allah yang tidak terhingga, cinta dan kedekatanNya, serta ikatan hangat kepada hambaNya. Jiwa dan raganya diselimuti oleh cinta dan kecenderunganNya. Selama ia masih melihat perwujudan kehendak Allah yang tak terhingga, meyakini bahwa Dia dapat melakukan segalanya dan Dialah yang maha Pemurah dan maha Penyayang, maka kedekatannya pada Allah akan terus meningkat.

Tetapi bagi seorang mu’min untuk mengalami keyakinan yang demikian menyenangkan, ia tidak perlu menyaksikan peristiwa yang besar atau menerima pemberian yang belum pernah diperoleh sebelumnya. Terkadang yang tampak biasa atau peristiwa tidak penting–seperti menerima sesuatu yang begitu diinginkan dalam pikiran, memperoleh jawaban atas pertanyaan ketika begitu dibutuhkan, atau ditawarkan makanan yang disukai di saat yang tak diduga–mungkin juga sudah cukup menunjukkan. Peristiwa-peristiwa itu sendiri mungkin tidak penting, tetapi maksud sebenarnya dari peristiwa ini yang telah ditetapkan oleh Allah sangatlah besar. Semua peristiwa ini adalah perwujudan kekuasaan Allah, rahmatNya yang tak terbatas. Menyatakan bahwa Dialah yang bersama hambaNya sejak semula dan Dia melihat dan mengetahui segalanya. Masing-masing perincian ini adalah keindahan yang tidak diduga yang Allah ciptakan untuk membentuk hambaNya yang dengan teguh mencintaiNya, seraya menunjukkan kedekatanNya pada mereka. Menyaksikan kenyataan yang begitu hebat ini merupakan perantara yang sangat menggerakkan gairah orang-orang mu’min dan mendekatkan mereka pada Allah.

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi perintahKu dan beriman kepadaKu, agar mereka memperoleh kebenaran.”  (QS. Al-Baqarah, (2):186)

Memahami Tujuan Bisnis/Bekerja (2)


4. Bisnis yang halal merupakan sumber penghasilan yang baik. Sebaliknya, bisnis yang haram adalah sumber kehidupan yang buruk. Bahkan jika semua norma dilanggar dan semua etika moral dilabrak kita akan menempati bumi Allah dengan peran sebagai perusak, bukan pemakmur dan penjaga yang baik. Allah Swt berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
(Q.S. Al-A‘râf (7): 10).


Salah satu manifestasi syukur adalah menjalankan fungsi dan tugas sesuai dengan kehendak pemberi tugas. Tugas kita adalah sebagai khalifah dan pemakmur bumi. Korupsi dan suap, over-fishing, polusi di mana-mana, ketidakpedulian terhadap ekologi laut, penggundulan hutan, dan lain sebagainya telah menjadikan kita sebagai hamba yang perusak dan tidak bersyukur.
Sesungguhnya semakin baik kualitas karya seseorang, semakin baik pula nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya. Allah berfirman,

“... dan bahwasanya manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.”
(Q.S. An-Najm (53): 39-41).


5. Bekerja tidak hanya ikhtiar demi memajukan standar ekonomi dan sosial seseorang, tetapi juga bertujuan untuk memajukan seluruh masyarakat. Karenanya, untuk mendapatkan rezeki, kita harus saling bekerjasama. Setelah rezeki diperoleh, hak kaum miskin ditunaikan, sekaligus memberdayakan potensi yang mereka miliki agar kehidupan ekonomi mereka meningkat.


Monday, January 21, 2013

Memahami Tujuan Berbisnis/Bekerja (1)



Memahami bisnis/pekerjaan dalam tinjauan ibadah dan jihad berkenaan dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Maqsood (2003) menguraikan perihal tujuan yang dimaksud :

1. Berbisnis (bekerja) sebagai bagian dari kewajiban yang diperintahkan Allah Swt. Islam menciptakan hubungan langsung antara bekerja dan perwujudan ketaatan seseorang terhadap Allah. Keduanya sama-sama perlu dan penting. Seseorang yang menghabiskan seluruh waktunya melaksanakan ritualitas ibadah dan menyandarkan kebutuhan sehari-hari kepada kemurahan orang lain bukan termasuk seorang muslim yang baik. Begitu pula seseorang yang menghabiskan waktunya untuk bekerja semata. Allah telah berjanji dalam firman-Nya,

“Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal.”
(Q.S. Âli ‘Imrân (3): 136).
2. Bekerja sangat menentukan martabat seorang manusia. Rasulullah Saw menekankan pentingnya martabat, nilai pribadi, dan harga diri. Martabat setiap muslim dapat diraih apabila memperoleh penghasilan sendiri secara halal setidaknya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

“Tidak ada makanan yang lebih baik untuk dimakan oleh seseorang kecuali apa yang dihasilkan dengan jerih payahnya sendiri.”


3. Bekerja atau berbisnis merupakan sarana untuk melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat. Islam memandang masyarakat muslim sebagai satu kesatuan ekonomi dan sosial yang esensial. Secara ekonomi, manusia memang saling menunjukkan ketergantungan. Rasulullah Saw meminta kita untuk bekerja secara jujur, berkualitas, dan mandiri karena akan menguntungkan kita dan juga masyarakat. Rasul bersabda,
“Bekerjalah dengan kedua tanganmu sendiri karena itu akan menguntungkan bagimu sebagaimana kamu telah beramal (untuk sesama).”


Sumber : http://www.syafiiantonio.com/index.php?content=isi&&id=101&&nid=18