Friday, February 1, 2013

MENGENAL TUJUH LAPIS ’BADAN’ MANUSIA



 
Kita mencoba masuk lebih dalam ke diri manusia. Semakin ke dalam semakin halus tingkatannya, semakin tinggi frekuensinya, dan semakin dahsyat energinya. Sekaligus, semakin abstrak bentuknya. Secara umum, ’tubuh’ manusia bisa dibagi menjadi 3 eksistensi dasar, yaitu: badan, jiwa, dan Ruh. Badan adalah eksistensi paling kasar, jiwa lebih halus, dan ruh adalah yang paling halus. Tetapi, karena Jiwa memiliki tingkatan-tingkatan lagi, maka secara keseluruhan diri manusia lantas terdiri dari 7 lapisan, yang semakin ke dalam semakin tinggi kualitasnya.

Badan tersusun dari zat-zat biokimiawi seperti C, H, O, N, S, P, Ca, Na, dan lain sebagainya. Unsur-unsur itu ’dilebur’ dan disenyawakan oleh Sang Pencipta menjadi susunan tubuh yang terdiri dari susunan atom-atom. Kemudian, menjadi susunan molekul, menjadi susunan sel, menjadi jaringan sel, organ-organ, dan akhirnya menjadi tubuh seutuhnya. Inilah karya terbaik yang disebut al Qur’an sebagai ahsani taqwim ~ ’sebaik-baik bentuk’ makhluk hidup.

Seluruh tubuh itu dikoordinasikan oleh organ komando yang sangat hebat fungsinya, yakni Otak. Organ berbentuk bubur di dalam kepala ini mengomando tubuh lewat mekanisme sarafi dan hormonal, sehingga tubuh kita menjadi satu kesatuan koordinasi yang luar biasa canggihnya.

Otak juga dibantu 6 macam ’radar’ dalam bentuk alat pengindera, yakni: mata, telinga, hidung, perasa, peraba, dan hati. Semua itu, secara global sudah kita bahas serba sedikit, agar memperoleh pemetaan masalahnya secara holistik. Dan, semua yang telah kita bahas itu ternyata baru 'badan kasar' yang berada di lapis pertama eksistensi manusia.

Badan kasar manusia adalah ’alat’ atau fasilitas yang berfungsi untuk menjembatani alam dunia dengan sosok yang lebih halus di dalamnya. Itulah yang dikenal sebagai jiwa. Atau bioplasma, dalam istilah kedokteran jiwa. Inilah sosok halus badan manusia yang tersusun dari energi. Ada sejumlah lapisan energi di dalam tubuh manusia yang membentuk badan lebih halus, lebih halus, dan semakin halus, sampai menuju ke inti eksistensi seorang manusia.

Entah kebetulan atau tidak, banyak kalangan spiritual ~ yang Islam maupun non ~ memiliki persepsi yang mirip satu sama lain. Bahwa tubuh manusia ini terdiri dari 7 lapisan badan. Mulai dari yang kasar sampai yang terhalus. Sebutannya berbeda-beda, tetapi mengacu ke sesuatu yang kurang lebih sama. Ada yang menyebutnya: nafs, qalb, ruh, sirr, sirr as sirr, khafi dan akhfa. Ada pula yang meminjam istilah-istilah dalam al Qur’an dengan menyebut urutan: Jism, Nafs, Aql, Qalb, Fuad, Lubb, dan Ruh.

Di kalangan meditasi juga dikenal istilah: cakra dasar, cakra seks, cakra solar pleksus, cakra jantung, cakra tenggorok, cakra mata ketiga, dan cakra mahkota. Dan beberapa lagi istilah yang digunakan oleh beberapa kalangan yang berbeda, tetapi uniknya mengacu ke jumlah 'tujuh', mirip dengan jumlah langit yang diceritakan al Qur’an. Saya sendiri mencoba melihat realitas lapisan tubuh manusia ini dari sisi pemahaman yang berbeda, yakni dalam sudut pandang sains yang menjadi ’kacamata’ pendekatan Tasawuf Modern.

Selain badan kasar yang berupa material, badan manusia memiliki lapisan yang lebih halus. Yakni yang kita kenal sebagai jiwa. Sifatnya energial. Dalam sains dipahami, bahwa energi adalah suatu kuantitas dan kualitas yang terdapat pada materi secara inheren. Jika di situ ada materi, maka di situ pula ada energi.

Kualitas dan besarnya energi, seiring dengan kualitas susunan materinya. Sebagai contoh, sebuah kayu memiliki energi yang tersimpan di dalam kayu itu. Sepotong besi juga memiliki energi di dalamnya. Tetapi, kualitas energi kayu dan besi berbeda dikarenakan susunan atom-atom dan molekulnya berbeda. Tentu saja besi lebih kuat dari pada kayu, karena struktur penyusunnya yang lebih bagus.

Demikian  pula dengan tubuh manusia. Setiap kita memiliki susunan tubuh yang berbeda, sehingga kualitas jiwa kita juga berbeda. Semakin hebat struktur tubuhnya, terutama otak, maka semakin hebat pula kualitas jiwanya. Semua manusia memiliki jiwa berupa ’badan energial’ itu di dalam badan kasarnya.

Susunannya sama dengan badan kasarnya, tetapi dalam bentuk energial. Dia punya otak energial, punya jantung energial, punya mata energial, telinga energial, dan anggota badan energial lainnya. Jika badan kasarnya mengalami kerusakan, maka badan energialnya juga mengalami kerusakan. Jika otak materialnya mengalami kerusakan, dengan sendirinya, otak energialnya juga mengalami kerusakan. Itulah sebabnya, kenapa orang gila mengalami kerusakan otak fisik, sekaligus psikologisnya.

Secara fisika dan sufistik, kita lantas bisa menggambarkan lapisan badan-badan manusia itu mengikuti tingkat kehalusan energinya. Lapisan pertamanya adalah material dengan susunan fisikal yang sudah kita bahas. Lapisan kedua, adalah jiwa energial yang paling rendah kualitasnya, yakni setingkat getaran mekanik.

Lapisan ketiga, yang lebih halus, adalah setingkat energi elektromagnetik yang bersumber dari getaran atomik. Lapisan keempat, lebih halus lagi, setara dengan energi inti atom, atau yang kita kenal sebagai energi nuklir. Lapisan kelima adalah energi yang bersumber dari partikel di tingkat kwantum. Lapisan ke enam adalah energi yang muncul dari partikel penyusun paling dasar, yang kini sedang diteliti . Dan, lapisan yang ketujuh adalah Ruh, yang berisi sifat-sifat ketuhanan.

Secara energial, jiwa itu semakin ke dalam semakin tinggi kualitasnya. Dan semakin besar kekuatannya. Energi mekanik kalah besar dibandingkan energi elektromagnetik. Tapi, energi elektromagnetik kalah hebat dibandingkan energi nuklir. Dan energi nuklir, kalah dahsyat dibandingkan energi kuantum.

Semakin ke dalam semakin halus, tetapi semakin dahsyat. Eksistensi materialnya semakin hilang dan bergeser ke eksistensi energial. Jika energi mekanik masih sangat material, maka yang namanya 'kuantum' itu eksistensi materialnya sudah bisa dikatakan hampir lenyap. Ia disebut sebagai ‘pilinan energi’.

Kalau ini kita paralelkan dengan tingkat-tingkat langit secara inner-cosmos ~ dalam jiwa setiap manusia ~ maka kita akan memperoleh tingkatan demikian: materi berada di langit pertama, getaran energi mekanik di langit kedua. Getaran energi elektromagnetik berada di langit ke-3. Getaran energi nuklir ada di langit ke-4. Dan getaran energi kuantum berada di langit ke-5.

Di balik energi kuantum ini masih ada satu level energi lagi, yaitu getaran partikel yang disebut sebagai ‘god-particle’ dan kini sedang diselidiki keberadaannya dengan menggunakan mesin pemecah partikel - Large Hadron Collider (LHC). Mesin raksasa dengan panjang sekitar 27 km itu diinstal di perbatasan negara Prancis dan Swiss. Partikel yang sedang diteliti itu diperkirakan adalah partikel yang menjadi asal muasal penyusun alam semesta. Lebih tua dari energi kuantum yang sekarang dianggap sebagai penyusun segala jenis benda.

Jika partikel itu diketemukan, maka partikel kuno itu akan menjadi getaran paling halus di level energi penyusun alam semesta. Partikel itu kini sudah semakin jelas 'sosok'nya, meskipun masih butuh waktu untuk mengungkapnya secara lebih gamblang. Maka, inilah getaran energi paling halus yang sejajar dengan langit ke-6.

Sedangkan langit ke-7 sudah bukan berada di level-level energi itu, melainkan berada di dimensi Ruh. Apakah Ruh? Dia bukan energi, melainkan sifat-sifat ketuhanan. Substansi dasarnya tidak diketahui, karena itu Allah memberikan semacam warning ketika bicara tentang Ruh: tidaklah kalian diberi ilmunya, kecuali cuma sedikit...!

QS. Al Israa’ (17): 85
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan SEDIKIT".


Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~

Thursday, January 31, 2013

KETIKA ‘KEHENDAK’ MENENTUKAN SEGALANYA





MUNCULNYA realitas alam semesta beserta segala isinya, diceritakan oleh Al Qur’an dengan hirarki yang menarik. Bahwa segala sesuatu ini bermula dari SANG KEHENDAK. Kehendak-Nya itulah yang mewujud menjadi INFORMASI penciptaan sebagai kalimat ‘KUN’. Dan lantas, mewujud menjadi SUNNATULLAH, dalam bentuk hukum-hukum alam yang mengendalikan ruang-waktu-materi-energi sebagai penyusun semesta.

Sedangkan ILMU, adalah pengetahuan atas segala realitas itu. Yakni, bentuk INFORMASI yang ‘terurai’ seiring dengan berkembangnya alam semesta. Seiring dengan proses penciptaan yang terus berlangsung. Seiring dengan proses pemahaman ‘siapa’ yang ingin menguasai ilmu itu.

Jika kita mengarahkan ‘ilmu’ itu sebagai ilmu-Nya, maka dengan sederhana kita bisa memahami, bahwa ilmu-Nya pasti meliputi seluruh alam semesta. Sebagaimana berulang kali Dia firmankan di dalam kitab suci. Pengetahuan-Nya pasti meliputi langit dan bumi, karena ruang-waktu-energi-materi ini memang adalah perwujudan dari kalimat-Nya belaka. Sedangkan ‘kalimat’ itu muncul atas kehendak-Nya. Dan ‘kehendak’ itu adalah salah satu sifat-Nya. Jadi pengetahuan-Nya terhadap realitas bersifat mutlak.

Di sisi lain, 'ilmu manusia' berkembang seiring proses pembelajaran. Sepanjang usianya. Sepanjang peradabannya. Yang baru ‘ribuan tahun’ belaka. Dan tak akan pernah bisa memahami alam semesta yang demikian luasnya itu dengan ilmunya. Mengingat, dimensi ruang yang maha raksasa, dimensi waktu yang tiada terkira panjangnya, dimensi materi-energi yang semakin misterius di skala makrokosmos maupun mikrokosmos.

Ilmu manusia terus bergerak dalam koridor ‘dugaan-dugaan’ secara trial and error. Pemahaman yang lalu ternyata ‘keliru’, maka diperbaiki dengan pemahaman hari ini yang ‘seakan-akan’ sudah benar. Tetapi, sepanjang sejarah ilmu pengetahuan kita selalu menjumpai fakta, bahwa ‘dugaan-dugaan’ sains itu selalu ‘keliru’ dalam berbagai skalanya.

Dulu mengira materi terkecil adalah atom, ternyata ‘keliru’. Setelah itu mengira partikel sub atomic, ternyata juga ‘keliru’. Setelah itu mengira quark, mungkin juga akan ‘keliru’. Dan seterusnya. Sains menyebutnya sebagai ‘perkembangan’ ilmu. Tetapi, Al Qur’an menyebutnya sebagai ‘dugaan-dugaan’ yang selalu ‘keliru’ dalam memahami realitas secara holistik. Hanya ‘benar’ dalam skala parsial dan kondisional.

QS. An Najm (53): 28-30
Dan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan-dugaan semata, padahal sesungguhnya dugaan-dugaan itu tidak berfaedah untuk (membuktikan hakikat) kebenaran.

Maka berpalinglah dari orang yang tak menghiraukan peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali hanya kehidupan duniawi.

Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang keliru dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Maka kalau kita berbicara dalam ranah hakikat kebenaran, kita harus mengacu kepada sang pemilik kebenaran itu. Informasi-informasi yang akurat. Bukan trial & error seperti yang ditunjukkan Sains. Karena, sebagaimana saya ungkapkan di note sebelumnya, sains dimulai dari ‘ketidaktahuan’ dan akan berakhir di ‘ketidaktahuan’ pula. Itu sudah terbukti selama ribuan tahun perkembangannya. Itulah ‘sejauh-jauh’ ilmu yang dimiliki manusia, kata Allah dalam ayat di atas.

Nah, Allah menganjurkan para pencari kebenaran, untuk memandu proses pengetahuannya dengan kitab suci. Karena dengan kitab suci inilah Allah mengarahkan proses keilmuan agar tetap berada di koridor yang benar. Dan segera mencapai tujuan final dalam usia manusia yang terbatas. Karena, tanpa petunjuk kitab suci, usia manusia tidak akan cukup untuk menemukan hakikat kebenaran. Meskipun ditambah dengan seluruh usia peradaban.

Apakah hakikat kebenaran itu? Adalah realitas. Apakah hakikat realitas? Adalah ruang-waktu-materi-energi. Apakah hakikat ruang-waktu-materi-energi itu? Adalah informasi. Apakah hakikat informasi itu? Adalah kalimat KUN. Apakah hakikat ‘kun’? Adalah ‘Kehendak’. Dan apakah hakikat ‘kehendak’ itu? Ialah Diri-Nya. Lantas, apakah hakikat DIA itu? Adalah laisa kamitslihi syai-un ~ ‘Tidak Bisa Dijelaskan’. Karena kita semua berada di dalam-Nya, sehingga tidak mungkin bisa menjelaskan tentang Dia, kecuali parsial. Itupun dipandu oleh Dia sendiri lewat firman-firman-Nya.

QS. Thaahaa (20): 110
Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.

QS. Ath Thalaaq (65): 12
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

Nah, ketika sudah sampai di hakikat segala kebenaran ini, ilmu manusia sudah tidak mungkin menjangkau-Nya. Inilah yang berulangkali diceritakan oleh Al Qur’an. Bahwa manusia tidak memiliki pengetahuan yang cukup, sehingga mesti berpatokan pada kitab suci yang menerangi pemahaman kita.

QS. Al Hajj (22): 8
Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (suci) yang bercahaya.

QS. Luqman (31): 20
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (eksistensi) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.

Jangankan tentang Allah, tentang yang gaib-gaib seperti akhirat saja misalnya, pengetahuan manusia sudah tidak mencukupi untuk menjelaskannya. Allah menyebutnya dengan kalimat: pengetahuan mereka ‘tidak sampai’ kesana. Bahkan, ditegaskan mereka ‘buta’ tentang akhirat.

QS. An Naml (27): 66
Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai, malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, bahkan mereka buta tentangnya.

QS. Az Zukhruf (43): 85
Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Maka, manusia yang tidak berpedoman kepada kitab suci akan terjebak pada kehidupan dunia. Mereka mengira bahwa kematian adalah akhir dari segala-galanya. Dan setelah itu tak ada kelanjutannya lagi. Oh, sungguh dia akan menyesalinya, justru setelah kematian datang kepadanya.

QS. Al Jatsiyah (45): 24
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati dan hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali waktu". Padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.

QS. Al Haaqqah (69): 27
Wahai, seandainya KEMATIAN itulah yang MENGAKHIRI segalanya...

Penyesalan selalu datang di akhir. Padahal, sama sekali tidak ada ruginya jika kita mau lebih bijaksana. Bahwa ‘teko’ kecil yang ‘terselip’ di ruang angkasa di sela-sela galaksi maha raksasa itu adalah sebuah realitas. Sama-sama riilnya antara yang kecil dan yang besar. Sehingga menganggapnya sebagai ‘peluang kecil’ yang harus dilupakan adalah sebuah ‘kesembronoan’.

Tetapi, sebagaimana saya tuliskan di awal note ini, bahwa hakikat segala realitas ini memang adalah ‘kehendak’. Artinya, terserah kepada siapa saja yang ingin berkehendak. Apakah ia mau menelusuri realitas itu sampai kepada Sang Maha Berkehendak, ataukah berhenti pada kehendak dirinya sendiri. Karena Allah memang telah mengimbaskan kehendak-Nya kepada manusia lewat ruh-Nya, sebagai ‘pilihan bebas’ dengan segala konsekuensinya. Mau menjadi atheis maupun hamba yang berserah diri hanya kepada-Nya, ya monggo-monggo saja… :)

~ Salam  Mentauhidkan Ilmu Pengetahuan ~



Wednesday, January 30, 2013

KETIKA SAINS TAK MAMPU MENJAWAB YANG GAIB





Kalau menjawab pertanyaan ‘KENAPA’ saja Sains tak mampu, apalagi menjawab hal-hal yang GAIB, seperti: Jiwa, Ruh, Kehendak, Alam Kematian, Alam Akhirat, Kiamat, Takdir, Malaikat, Jin, dan lain sebagainya. Paling-paling, jawaban yang keluar dari seorang pakar sains hanyalah: semua itu di luar wilayah sains. Atau, itu berada dalam wilayah ‘keimanan’… :)

Hanya sebatas itulah memang ‘kemampuan’ Sains. Karena ia dikembangkan berdasar kemampuan berpikir kulit otak yang bersifat sensorik, berdasar panca indera. Sehingga, sesuatu baru diakui sebagai evidence atau bukti ketika bisa dilihat, didengar, dibaui, dikecap, dan diraba. Secara langsung, maupun setelah ditransfer ke variable-variabel yang bisa diamati oleh panca indera.

Di luar itu, Sains sudah tidak mampu. Tetapi, itu memang ‘tidak salah’. Dan tidak bisa disalahkan. Karena para pakar Sains memang sudah ‘membatasi diri’ seperti itu. Sehingga, konsekuensinya, segala sesuatu yang di luar wilayah ‘terbukti’ itu lantas dinamai dengan: pseudo-science, paranormal, metafisika dan lain sebagainya. Pada tingkat ini, saya masih bisa ‘sependapat’ atau setidak-tidaknya mengapresiasi-lah.

Yang saya menjadi tidak sependapat itu adalah: ketika para pakar Sains berpendapat bahwa SEGALA SESUATU yang tidak bisa dijelaskan oleh Sains berarti TIDAK ADA. Alias bukan realitas. Inilah masalah utamanya, sehingga kenapa saya mengeluarkan ungkapan: ‘Sains bukan segala-galanya’. Karena, Sains memang tidak bisa menjelaskan segala-galanya. Dan, sama sekali tidak benar, HANYA Sains saja yang bisa menjelaskan realitas. Selebihnya tidak bisa. Inilah yang saya sebut sebagai’ kepongahan’ itu..! Bukan kepongahan sains memang, lebih tepatnya adalah kepongahan para pakar Sains yang berpendapat seperti itu.

Woow, terlalu banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh Sains. Jangankan yang ‘gaib-gaib’, yang tidak gaib saja sedemikian banyaknya. Melanjutkan sedikit, tentang ketidakmampuan Sains menjawab pertanyaan ‘kenapa’ di note saya sebelumnya; situasinya akan menjadi sangat ‘menggelikan’ ketika Anda mengejar para pakar sains dengan pertanyaan KENAPA itu.

Ketika saya tanyakan: KENAPA ada laki-laki dan perempuan? Dijawabnya: karena ada kromosom XY dan XX. Tapi cobalah kejar lagi dengan pertanyaan: Lha, KENAPA ada kromosom XX dan XY? Mungkin dia akan menjawab: karena diatur oleh sejumlah gen yang ada di dalam kromosom. Kemudian, Anda bertanya lagi: Lha, KENAPA kok ada gen-gen yang bisa mengatur terjadinya jenis kelamin itu? Mungkin, dia akan menjawab: yaa, karena ada seleksi alam..!

Hheehe, terus KENAPA ada seleksi alam? Kira-kira jawabannya: Mmm.., ya karena alam ini memang punya hukum untuk menyeleksi..! Hhahaa, mulai mbulet kan..?! Tapi, Anda masih bisa terus bertanya dengan ‘KENAPA’. Lhaa iya, KENAPA kok alam punya kemampuan untuk menyeleksi? Trus dijawab lagi: Ya pokoknya begitulah…!! Nah, dialog seperti inilah yang akan menjadi ‘akhir’ dari diskusi antara Atheis dan Tasawuf Modern tentang sains.

Saya tentu tidak pernah menyalahkan sains sabagai ilmu. Lha wong saya juga penggemar sains. Saya cuma ingin menunjukkan bahwa Sains bukan segala-galanya. Apalagi, Sains bekerja secara trial & error. Dicoba, kalau ‘salah’ diluruskan, dan kalau ‘benar’ diteruskan. Sehingga adalah sebuah ‘kekeliruan besar’ kalau ada orang yang begitu mengagungkan Sains, sehingga mengira hanya dengan Sains-lah manusia bisa MEMAHAMI seluruh REALITAS. Hmm, dia sedang bermimpi di siang bolong. Atau, mungkin mimpi sambil berdiri, kayak foto di wall saya itu… :)

Kecuali, dia sudah mendefinisikan bahwa yang disebut ‘realitas’ itu HANYALAH yang dipahami oleh Sains. Selebihnya bukan realitas, karena tidak bisa dipahami oleh sains. Wah, kalau sampai muncul klaim demikian, ini sudah bukan kepongahan lagi, tapi sudah arogansi. Dan, menjungkir-balikkan makna realitas. Karena, Sains sendiri masih terus berkembang secara trial & error untuk memahami realitas yang belum diketahuinya.

Jadi, masalahnya sangat SEDERHANA. Sains itu cuma SECUIL ilmu yang ada dalam REALITAS. Alam semesta ini adalah SAMUDERA ILMU. Yang sudah terungkap barulah SETETES saja. Masih jauh lebih banyak yang belum diketahui daripada yang sudah. Ibarat ruang alam semesta: lebih banyak ruang GELAP-nya, daripada kerlipan CAHAYA bintang pengisinya. Itulah yang difirmankan Allah dalam ayat berikut ini.

QS. Luqman (31): 27
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena, dan lautan (menjadi tinta). Kemudian ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) sesudah (kering)-nya, niscaya TIDAK akan HABIS-HABIS-nya (dituliskan) kalimat (ilmu) Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

QS. Ath Thalaaq (65): 12
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, AGAR kamu MENGETAHUI bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ILMU-Nya benar-benar MELIPUTI segala sesuatu.

Begitulah sahabat, kalau Anda men-challenge Sains dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar secara beruntun, maka diskusinya akan berujung pada ‘ketidak-tahuan’. Ya memang itulah hakikat sains. Ia berangkat dari ‘ketidaktahuan’ dan akan berakhir dengan ‘ketidaktahuan’. Karena itu, jangan menjadikan Sains sebagai alat untuk ‘MELIHAT’ Tuhan. Sehingga, kalau Tuhan tidak bisa ‘dilihat’ dengan Sains lantas berkesimpulan bahwa TUHAN itu TIDAK ADA. Hhehe.., lha wong ‘peralatannya’ yang keliru, kok menyalahkan Realitas-Nya. Terlalu naïf kawan..!

Manusia memiliki perangkat yang jauh lebih ‘keren’ selain Pikiran Sadar yang menjadi sumber Sains itu. Yakni, Alam Bawah Sadar. Islam menyebutnya sebagai Qalb & Fu-aad. Dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi HATI. Ada juga yang menyebutnya sebagai INTUISI. Ada lagi, INDERA KEENAM alias the sixth sense. Dan sebagainya. Ia memiliki kemampuan mengolah informasi ratusan ribu kali lipat lebih dahsyat dibandingkan Pikiran Sadar.

Islam mengajarkan PERPADUAN antara Pikiran Sadar dan Bawah Sadar itu secara simultan dengan panduan firman-firman Sang Pemilik Ilmu. Di dalam Al Qur’an disebut sebagai ‘tafakur’ dan ‘dzikir’. Atau, ada yang menyebut intetelektualitas dan hati. Jangan hanya digunakan salah satunya, karena bisa menjebak pada kesalahkaprahan. Orang yang hanya menggunakan ‘pikirannya’ akan terjebak kepada hal-hal yang materialistik saja. Sedangkan orang-orang yang hanya menggunakan ‘hatinya’ akan terjebak kepada ketidakpastian yang tak terkendali. Perpaduannya menghasilkan kesempurnaan yang disebut sebagai kualitas ULUL ALBAB. Tipikal orang seperti inilah yang kata Al Qur'an bakal bisa mengambil pelajaran dari Firman-Nya dengan sebaik-baiknya.

QS. Ali Imran (3): 7
… Dan TIDAK DAPAT mengambil PELAJARAN kecuali orang-orang yang menggunakan akal (ulul albab).

Maka, bagi agama Islam, pembelajaran SAINS adalah sebuah KENISCAYAAN. Sebagaimana niscayanya penggunaan HATI. Itulah yang tergambar dalam ratusan ayat-ayat Al Qur’an yang selalu menjadi landasan saya dalam menulis buku-buku Diskusi Tasawuf Modern. Sebuah pembelajaran dengan mekanisme Ulul Albab.

QS. Ali Imran (3): 190-191
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang hari terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ULUL ALBAB), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (DZIKRULLAH) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka TAFAKUR (berpikir secara ilmiah) tentang penciptaan langit dan bumi (sampai menyimpulkan): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Dengan perpaduan antara dzikir dan tafakur itulah umat Islam tidak TERBELENGGU ke dalam pemahaman PARSIAL dalam memahami REALITAS. Mulai dari yang bersifat materialistik, energial, maupun spiritual. Mulai dari alam dunia, alam barzakh, sampai alam akhirat. Atau, dari yang bersifat badaniyah, nafsiyah, sampai ruhiyah. Islam mengajarkan SAMUDERA ILMU kepada hamba-hamba-Nya yang ingin memahami realitas dalam arti yang sebenar-benarnya. Karena, semuanya itu memang ilmu-ilmu Allah, Dzat Maha Berilmu yang menguasai segala realitas jagat semesta. Inilah yang disebut sebagai BERTAUHID hanya kepada ALLAH itu... :)

QS. An Nisaa’ (4): 126
KEPUNYAAN Allah-lah apa yang di LANGIT dan apa yang di BUMI, dan adalah Allah Maha MELIPUTI segala sesuatu.

~ Salam Mentauhidkan Ilmu Pengetahuan ~