Friday, August 24, 2012

Tuhan Maha Lembut




“Wow! benarkah?” tanya Ubed.

Ubed mencoba terus mendengarkan Ivan bercerita. Sudah hampir satu jam Ivan bercerita panjang lebar. Ivan adalah teman yang baru ia kenal dua hari lalu. Ia bertemu pertama kali di rumah kosnya. Perbincangan itu terjadi saat Ivan berkunjung untuk kali kedua di tempat yang ia tinggali.

Dalam obrolan santai itu, Ivan selalu mendominasi. Namun Ubed mencoba mengontrol raut mukanya agar tetap terlihat biasa.

Sesekali Ubed menambahi cerita atau sekadar mengekspresikan ketakjubannya. Sebenarnya cerita Ivan sungguh membosankan baginya. Pembicaraan yang terlalu self-centric itu membuatnya muak. Memang bukan perkara yang aneh ada seseorang yang mendominasi dalam suatu obrolan. Mendominasi menunjukkan antusisme. Tapi jika  hanya itu yang dilakukan Ivan, tentu saja Ubed tidak akan merasa panas telinganya. Hal yang membuatnya harus meninggalkan percakapan itu adalah sikap Ivan yang terkesan menuturi atau menceramahi. Sehingga orang-orang disekelilingnya tampak bodoh.

Ubed mulai mencari cara untuk bisa keluar. Pandangannya menyapu benda-benda sekelilingnya. Ia berharap ada sesuatu yang bisa membantunya. Setelah menyisir meja yang ada di hadapannya, matanya terhenti pada benda berbentuk kotak kecil yang sudah sangat akrab dengan manusia. Ya, handphone memang alat yang reasonable untuk melepaskan kita dari situasi yang kurang mengenakkan. Bisa sekadar melihat jam, mengecek SMS masuk, pura-pura browsing,  atau berlagak seolah-olah  menerima telpon.
Ia pencet tombol merah yang berada di ujung kanan atas. Di sana terbaca pukul 16.00. 

Sambil senyum,

“Sorry, aku pamit dulu.” Kata Ubed.

Ivan dan yang lain mempersilakannya. Ia segera menuju kamarnya.

Sesaat ketika ia terpisah dari perbincangan itu, Ubed terdiam. Ia terpaku dalam duduknya. Nampaknya ia memikirkan sesuatu. Sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

“Astaghfirullah...” ucapnya.

Tiba-tiba ia merasa begitu bersalah.Ia membandingkan apa yang baru ia rasakan dengan teman-temannya. Ia mencoba memikirkan apa yang dirasakan teman-temannya ketika ia bercerita seperti Ivan. Barangkali orang lain merasakan seperti yang ia rasakan.

Tuhan memang maha lembut seperti salah satu namanya Al-latif. Dia kerapkali mengingatkan dengan cara-cara yang sangat halus. Hingga hal itu tidak akan disadari tanpa sedikit perenungan mendalam.

Ubed berfikir ini adalah teguran Allah kepadanya jika barangkali ia juga suka mendominasi, suka melebih-lebihkan cerita, dan sering membanggakan diri dalam bercerita.

Thursday, August 23, 2012

Belajar Dari Daun



Anda tahu pohon? Ya, saya yakin semua orang pernah melihatnya atau bahkan memilikinya. Setiap pohon pada umumnya memiliki daun. Daun itu sendiri berfungsi sebagai tempat pernafasan dan “dapur” dalam proses kelangsungan kehidupannya. Selain itu, masih banyak fungsi daun yang lainnya.

Kita tidak membicarakan daun dari segi bioliginya. Tetapi dari segi filosofinya. Ada hal yang menarik yang bisa kita petik dari bagian tumbuhan yang berwarna hijau ini. Sebuah kebijaksaan hidup terkandung olehnya.

Daun suatu ketika akan rontok atau terlepas dari pohonnya. Jika kita perhatikan, daun yang rontok itu tidak harus yang tua dan berwarna coklat. Daun yang hijau dan masih segar pun bisa saja rontok. Entah itu karena angin, campur tangan burung, faktor kesengajaan manusia, atau memang benar-benar jatuh secara alamiah. Tak ada yang mampu memprediksikannya dengan pasti.

Pun demikian juga dengan nyawa. Ada banyak sekali cerita mengenai kematian yang tertunda. Guru saya pernah bercerita bahwa ada seorang dokter secara pengamatan medis memperkiraan seorang pasien yang diperiksanya tidak akan  berumur lebih dari tiga bulan.

Namun nyawa tetaplah menjadi misteri Allah Swt. Setelah tiga bulan berlalu, ternyata si pasien masih hidup. Dan anehnya lagi sang dokter yang memeriksanya malah meninggal duluan!

Begitulah sebuah nyawa. Kita sendiri tidak tahu kapan nyawa kita sendiri akan lepas dari raga kita. Baik saat usia tua atau ketika masih muda. Apakah besok, besok lusa, nanti, atau bahkan sekarang. Maka bijaklah jika kita senantiasa mempersiapkannya. Ketakutan dan kekhawatiran bukanlah hal yang baik. Dan yang terbaik adalah mengopmtimalkan kesempatan yang masih ada.

Wednesday, August 22, 2012

Dermaga Muncar In Pictures

Berangkat melaut. Bismillah!
Kapal-kapal nelayan (sedang tidak beroperasi)















Berburu ubur-ubur
















 
Cumi-cumi

Dua ekor ubur-ubur
Hasil buruan. Alhamdulillah sesuatu ya :-D
Ikan dijual (wow! ada ikan pari juga)















Ikan-ikan kecil
















Jalan dermaga
Jalanku masih panjang
Menemukan target ubur-ubur
Menunggu wangsit (biar cepat ketemu jodoh)
Pangkalan kapal














Para bujangan tekor.
Semoga Allah senantiasa memberi mereka petunjuk! XD
















Lapak pasar yang tidak beroperasi














Pedagang ikan
Dua orang pemancing ikan















Sebuah perahu nelayan melintas














Siap pulang
Tempat ikan

Tempat pelelangan ikan

Trio macan bokek xD

Seekor ubur-ubur (waduh! puntung rokok siapa tuh?)
















Tuesday, August 21, 2012

3 Kepandaian Pebisnis Handal



Setiap manusia dikarunia kepandaian. Entah itu didapatkannya dari proses belajar atau pembawaan sejak lahir. Kepandaian berpengaruh besar pada keberhasilan atas tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai. Kepandaian pun beragam. Bisa jadi setiap orang satu berbeda dengan yang lain.

Seseorang yang memiliki kepandaian tertentu mempunyai kecenderungan tertentu pula. Dan belum tentu kepandaian di suatu bidang, akan memuluskan langkah di bidang yang lain. Kekhasan itulah yang membuat setiap kepandaian harus dikenali. 

Memang orang-orang yang sukses bergelut di bidang yang sama memiliki perbedaan baik kemampuan dan cara pandang. Sebagaimana para pebisnis kawakan pun tidak ada yang seratus persen sama alias plek! Namun dari semua pebisnis yang sukses memiliki persamaan kepandaian.

Berikut adalah 3 kepandaian yang dimiliki oleh para pebisnis handal, 


1.      1.  Pandai menjalin kerjasama

Sebagai makhluk sosial, kerjasama merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Begitu pula para pebisnis, sukses atau gagal serta cepet tidaknya perkembangan usaha yang digeluti ditentukan seberapa tepat mereka memilih orang-orang yang akan berjalan bersamanya. Kerjasama dalam hal ini adalah kejelian memilih mitra (pemasok, distributor, dll.) dan karyawan yang akan bekerja untuknya.

Dalam hitungan perusahaan, SDM adalah aset paling berharga. Alat dan mesin dengan teknologi mutakhir bisa dibeli. Sistem yang handal pun bisa dibuat. Manusia memang bisa dibeli tenaganya. Tetapi jiwa mereka yang memilki pandangan dan kehidupan tersendiri adalah milik mereka seutuhnya.

Berbeda dengan alat, mesin, dan sistem yang sewaktu-waktu bisa aus dan usang, sedangkan manusia adalah makhluk yang unik yang berpotensi terus berkembang jika diasah. Karena pada dasarnya manusia memiliki kunggulan berinisiatif inisiatif untuk selalu menyesuaikan.

Pemilihan orang-orang yang tepat menjadikan bisnis akan berpotensi besar untuk senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. 


2.       Pandai mengelola modal

Banyak yang masih beranggapan bahwa modal adalah sejumlah uang ada di tangan. Modal tidak harus selalu berupa uang. Ia merupakan salah satu jenis modal, tapi bukanlah satu-satunya. Jika demikian, kepandaian mengelola uang artinya cakap dalam dalam penggunaannya. Terampil mengelola perputaran uang menjadikan seseorang bijak dalam membelanjakan, dan selalu berfokus pada hal-hal yang produktif. Bukan sebaliknya!

Selain uang, jenis modal yang lain adalah waktu. Jika anda setuju dengan saya, waktulah yang sebenar-benarnya modal. Karena belum tentu setiap orang memiliki uang. Dan kalau waktu? Pastilah semua memilikinya. Dan jumlahnya sama! Investasi yang tepat, akan memperoleh hasil yang baik. 

Jaringan/relasi/koneksi/pertemanan atau apapun namanya, yang jelas besar kecilnya bisnis yang bergentung seberapa banyak orang mengetahui bisnis tersebut. Setiap bisnis orientasinya selalu pada penjualan. Semakin banyak orang yang tahu, semakin besar kesempatan untuk mendapatkan konsumen dalam jumlah besar. Nah, fungsi jaringan di sini dalam rangka marketing atau informasi akan peluang-peluang.

Kecerdasan atau keahlian. Modal ini juga pasti dimiliki semua orang. Karena pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan yang bersifat personal. Keahlian seperti menysusun rencana dan strategi maupun menciptakan ide teranyar adalah buah dari pemberdayaan optimal anugerah Tuhan tersebut.


3.       3. Pandai membaca peluang

Peluang adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan. Apapun yang ada disekitarnya baik nampak maupun tidak adalah peluang jika bisa mengkonversikan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Hal-hal yang membuat orang terbantu, termudahkan,  dan merasa nyaman dalam menjalani hidup adalah peluang.

Pebisnis handal mampu menangkap peluang di setiap sektor yang bisa digarap. Sekecil apapun itu. Baginya potensi besar yang tersembunyi jauh lebih penting dari sekadar jumlah tertentu yang sudah tampak.



Monday, August 20, 2012

Anugerah Aidilfitri



Disana apakah ertinya Syawal (What does Syawal mean there)
Tangisan dan rintihan tiada henti (The endless crying and groan )
Alangkah hibanya di Aidilfitri (How touched it is in the Eid ul fitr)
Buminya bagai ambal duri (The earth is like “ambal duri”)


Disini hari ini lebaran yang dinanti (It’s here and today the eid which is waited for)
Sanubari bernyanyi suci murni (The soul sings something pure and holy)
Amalan dirahmati pekerti lahir batin (The deed is blessed inner and outer)
Sesuci sebersih lebaran ini (As holy  and clean as this eid )

Bersalam bermaafan (Greeting for forgiving one another)
Keampunan keberkatan (Forgiving for blessing)
Berdendang sehalaman (Singing of neighbourhood)
Bersaudara berpanjangan (Making the brotherhood long)
Yang malang jangan lupa (Don’t forget the unfortune people)
Kusyukuri-Mu Rabbani (I thank to you my God)


Anugerah Aidilfitri (The gift of the Eid ul fitr)
Indahnya hari ini (How beautiful this day)


Mari puji memuji kepada tuhan (Let’s praise to the God)
Titis kasihnya melimpah seluruh alam (His blessing blesses to universe)
Mari puji memuji tuhan yang Esa (Let’s praise to The only God)
Insafi nikmat diberi di hari Raya (Realize the gift which is given in the Eid)

Kebiasaan-kebiasaan Pebisnis Ulung



Pencapaian merupakan manifestasi dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Kebiasaan berupa gerak-gerik yang menjadikannya semakin terampil. Itulah yang akan mengantarkan si empunya kebiasaan tersebut pada kondisi yang lebih baik kedepannya.
Di dunia bisnis, jika diperhatikan ada beberapa kebiasaan yang dimiliki para pebisnis tangguh. Kebiasaan ini melekat erat pada diri mereka dan menjadi karakter paten :



Inventasi

Menempatkan segala modal yang dimiliki di tempat-tempat yang berpotensi untuk berkembang. Itulah kejelian dalam berinvestasi. Investasi berarti kepentingan yang berorientasi pada jangka panjang. Ada pribahasa yang mengamini berbunyi “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” 


Pendelegasian

Mental seorang wirausahawan tulen dapat dilihat dari kecenderungan untuk mendelegasikan pekerjaan demi melakukan pekerjaan lain yang lebih produktif. Pendelegasian mengacu pada beberapa pertimbangan nilai penting; pertama kepercayaan terhadap orang lain. Seseorang yang mampu memberikan kepercayaan kepada orang yang tepat maka ia akan mendapatkan keuntungan berupa keleluasaan waktu, tenaga dan pikiran. Dengan modal itulah ia bisa berinvansi. Kedua pemberdayaan. Pendelegasian berarti memberi kesempatan orang lain untuk bekerja. Ini juga berarti berbagi roti dengan orang lain. Ketiga pengkaderan. Pendelegasian memberi kesempatan orang lain untuk berkembang dan berproses seperti yang dia alami. Berbagi pengalaman dan ilmu yang nantinya memberi manfaat kecakapan hidup untuk orang yang didelegasikan.


Jujur

Jujur yang utama adalah jujur terhadap diri sendiri. Berarti adanya kesadaran untuk terus belajar, terus memperbaiki, dan membuka diri untuk hal-hal yang bisa membuatnya menjadi lebih baik.
Jujur kepada orang lain akan melahirkan kepercayaan. Orang jujur sangat disegani, dihormati dan dicari. Orang berani membayar mahal untuk orang yang jujur. Membayar dengan kepercayaan besar. Orang yang cacat kejujuranya di mata orang lain, selamanya ia akan menyandang citra buruk. Dan itu sungguh menyulitkan.


Adil

Adil mengandung artian bahwa segala sesuatunya ditempatkan di tempat yang pas dan sesuai dengan porsinya. Manusia memiliki tiga sisi yang ketiganya harus dirawat dengan baik. Tubuh, otak, dan jiwa. Adil dengan tubuh berarti mampu menjaga kebugarannya. Tahu kapan waktunya tidur, makan yang layak, olah raga teratur dan kegiatan perawatan badan lainnya. Untuk otak berarti tidak lupa selalu memberikan asupan pengetahuan dan terus ditambah agar berkembang. Otak yang di asah tidak mudah rusak (pikun). Perawatan jiwa tidak kalah penting. Malah terpenting. Orang sehat tapi jiwanya sakit sama saja dengan gila (sakit jiwa).

Kemudian pebisnis ulung tidak akan melupakan berbuat adil untuk orang lain. Jika bekerja sama, dilakukan pembagian yang adil sesuai kesepakatan dan besarnya pengorbanan. Memberi bagian (gaji) kepada orang yang bekerja untuknya dengan gaji yang layak. Rasa adil tidak akan menimbulkan ketimpangan dan kecemburuan. Kecemburuan yang tertumpuk bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan sumber ketidak adilan.

Pebisnis juga manusia biasa yang harus menjalankan kodrat sebagai makhluk yang selalu membutuhkan tuhan. Kendati Tuhan tidak akan berpengaruh atas persembahannya. Ia harus membuat dirinya dicintai Tuhan agar terjaga dan diberi selalu kemudahan hidup.

Profesional

Profesional berarti tahu dan mau apa yang harus dilakukan. Pribadi profesional akan melakukan perkerjaan sesempurna (sebagaimana) pekerjaan itu dilakukan seharusnya. Profesionalnya seorang pebisnis dilihat dari seberapa memuaskan melayani konsumen dengan produk-produk yang berkualitas. Menciptakan sistem yang memudahkan berjalannya perusahaan. Profesional juga berarti terus menciptakan sesuatu yang kreatif dan inovatif guna menjaga kelangsungan hidup perusahaan dan orang-orang yang bernaung di dalamnya. (karyawan, konsumen, mitra, distributor, pemasok)


Dermawan (ahli shodaqoh)

Jika diperhatikan, orang-orang yang berhasil dibidang bisnis tak bisa lepas dari kedermawanan. Kemauan berbagi menjadikan jiwa merasa kaya. Dengan memberi akan tercipta manfaat. Dengan berbagi semangat menghasilkan lebih banyak selalu terjaga.
Kikir tidak akan membuat harta atau usaha berkembang. Kikir mengandung arti ketakutan. Takut akan berkurangnya harta. Sehingga ketakutan itu bertransformasi pada ketakutan mengambil resiko, keraguan melangkah, dan hanya berhenti di tengah jalan. Pada dasarnya segala sesuatu harus terus bergerak dan berputar agar tetap bertahan hidup. Berhenti berarti bersiap mati.


Teman karib resiko

Resiko selalu ada. Jika membuka usaha resiko yang selalu dihadapi berupa :takut gagal, takut dicemooh, takut nggak laku, takut ini dan sebagainya. Resiko memang sealu melekat pada sesuatu yang diperjuangkan. Berani menghadapi resiko adalah sebuah pengerobanan. Seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu tanpa berkorban.
Pebisnis handal pasti mengetahui bahwa resiko ada dimana-mana. Di manapun ia melangkah di situlah ada resiko. Jika dia berani menghadapi dia berarti siap menerima keuntungan yang ada dibalik resiko itu. Semakin sering mertemu resiko semakin akrab dengan resiko dan pada akhirnya resiko adalah teman untuk menjadikan keberhasilan terasa lebih berarti.


Sunday, August 19, 2012

Sholat Istisqo




Panas matahari cukup terik. Bergerombol orang merencanakan sholat istisqo (sholat minta hujan). Setelah waktu dan tempat ditentukan mereka membubarkan diri.
Hari yang direncanakan tiba. Beberapa orang sudah berkumpul menuju tempat yang disepakati untuk menyelenggarakan sholat. Mereka tampak menunggu satu orang yang belum datang bergabung. 

Beberapa menit kemudian, seseorang yang ditunggu muncul keluar dari rumahnya. Ia dengan PeDe menenteng sebuah payung di tangan kanannya. Sekejap mata orang-orang tertuju padanya. Selanjutnya tawa pun pecah. Mereka geli dan sedikit mencibir melihat salah seorang temannya itu.


“Ngapain bawa payung segala.” Ujar seorang sambil tertawa.

Dia tidak tampak malu dan bahkan dengan enteng ia menimpalinya,

“Kita mau ngapain toh? Kita mau sholat istisqo kan?”

“Bukannya kita harus yakin dalam berdoa jika ingin terkabul. Nah ini beginilah bentuk keyakinanku. Kalo gak yakin dikabulkan, ngapain berdoa kalo gitu”

Semua teman-temannya terpabelalak mendengar jawaban itu. Mereka hanya bisa manggut-manggut tanpa bisa mendebatnya lagi.

Pesan moral : Kita harus yakin dengan apa yang kita lakukan.

Saturday, August 18, 2012

Saat Kau Gelisah


Saat kau gelisah dengan permasalahan yang menghimpitmu
Dan kau merasakan segalanya menjadi sesak
Lihatlah langit yang luas dengan berjuta bintang
Mereka senantiasa bersinar dan beredar dalam garisnya tanpa ada sedikit cela yang bisa kau salahkan
Kemudian sadarilah bahwa Allah akan sangat mudah untuk menghilangkan segala gundah yang menyesakkanmu
Panggilah Dia dengan nama-nama-Nya dan mintalah apa yang ingin kau minta

Saat kau resah akan segala rasa kekuranganmu
Kau berpikir apa yang kau inginkan tidak kunjung kau dapatkan
Ingatlah kenikmatan yang belum sempat kau syukuri
Beribu-ibu kemudahan dan keberlimpahan yang kerap kau abaikan
Hingga kau menganggap masih ada kebahagiaan yang belum lengkap
Ingat ragamu dengan kebugaran yang masih prima
Keberadaan orang-orang terdekatmu yang masih bisa kau nikmati kebersamaannya, kau sayangi dan menyayangimu
Ingat pula segenap kemampuan yang melekat pada dirimu yang tetap bisa kau gunakan untuk kepetinganmu

Saat kau gelisah dengan kepedulian Allah untuk mendengarmu, melihatmu, dan memperhatikanmu
Seolah-olah kau merasa Dia terlalu jauh untuk sekedar menyambutmu
Rasakan dinginnya angin atau panasnya udara yang sering kau keluhkan itu
Perhatikan aliran air sungai atau derasnya air hujan
Dan sadari detak jantung yang masih kau dengar dan rasakan itu
Dari sanalah kau akan benar-benar sadar jika Allah begitu dekat denganmu dan Dia senantiasa berada dalam setiap hembusan nafasmu

Tak ada yang perlu dan pantas kau gelisahkan jika kau menyadari betapa dekatknya Dia untukmu

Friday, August 17, 2012

Tong Sampah Di Negeriku


“Prok...prok...prok...”
Suara langkah kaki mendekatiku. Harapanku tetaplah sama seperti sebelumnya. Berharap ada seseorang yang memasukkan sesuatu di dalam perutku. Hari-hariku kerap dipenuhi kenyarisan. Puluhan benda-benda sisa keperluan mereka hampir menjadi makananku. Namun seringkali tidak jadi.

Aku menunggu orang itu menghampiriku. Membuka topiku dan menjatuhkan bungkus makanan yang ia bawa ke dalam perutku.

Ah, ternyata masih sama. Orang yang terakhir melintas hanya melemparkan selembar plastik di bawahku. Aku heran dengan orang-orang sini. Aku dibuat oleh mereka untuk digunakan. Mereka mengecatku dengan warna yang indah dan tulisan-tulisan sebagai penanda di tubuhku. Mereka pun berharap kebersihan lingkungan dengan keberadaanku di sudut-sudut kota. Namun tidak berfungsinya diriku ibarat seonggok rongsokan yang terletak di tepi jalan.

Tubuhku mulai lemas. Terik matahari membagikan panas dengan diriku. Gelitikan angin berhembus tak mampu membuatku tersenyum.

Sudah beberapa hari ini perutku memang tak terisi. Setumpuk makanan hanya tergeletak beberapa centimeter saja di dekat kakiku. Andai aku punya tangan, kuraih benda tak berguna itu lalu kumasukkan lewat kepalaku. Atau jika kakiku bisa bergerak, aku akan lari menuju teman-temanku yang berada di negeri seberang. Dan aku tidak akan semenderita ini tentunya.

Terkadang aku iri dengan teman-temanku di negara-negara lain. Di Jepang, masyarakatnya begitu menyayangi benda-benda sepertiku. Mereka memanfaatkanya dengan sangat baik. Teman-temanku hidup teratur. Mereka bahkan mempunyai jadwal bervariasi setiap harinya.

Tidak hanya di negeri olahraga sumo itu berasal, kawan-kawanku  di Singapura pun turut bahagia. Masyarakat yang begitu memperhatikan lingkungan menjadikan fasilitas sepertiku tak pernah berpuasa. Teman di Amerika Serikat, kawan di negara-negara Eropa, dan sahabat di Selandia Baru tak akan merintih karena pembiaran seperti diriku. 

Apa sih bedanya diriku dengan mereka. Apakah hanya sekadar bentuk ataukah perkara tempat di mana kami diletakkan. Ataukah karena arogansi masyarakat dengan sikap acuh dan ketidakpedulian mereka terhadap bumi mereka sendiri. 

Aku hanya bisa menangis. Menangis bukan hanya kesedihan nasibku. Aku pun menangis juga karena rasa ibaku terhadap kebodohan orang-orang sekitarku.  Kelalaian mereka dengan lingkungan. Dan kebiasaan buruk mereka. Benda yang seharusnya mereka letakkan di dalam perutku tergeletak, berserakan, bahkan berenang bebas di sungai-sungai mereka. Mereka lupa bahwa bencana banjir siap mengancam diri dan keluarga mereka. 

Kecerobohan terhadap makanan-makananku adalah awal malapetaka bagi mereka.  
Coba bayangkan seberapa besar kerugian jika bencana itu terjadi. Rumah-rumah hanyut. Berbagai fasilitas umum rusak. Dan tak jarang nyawapun menjadi bayaran karena ulah mereka. 

Sebenarnya pemerintah di negeriku cukup peduli. Mereka mempunyai tim kebersihan. Truk-truk yang gagah pun mereka miliki. Area pembuangan akhir terbentang luas. Dan slogan-slogan himbauan yang tak kalah dengan calon legislatif terpajang di perempatan kota. Mereka masih bekerja. 

Namun slogan-slogan itu hanya omong kosong layaknya kebanyakan janji-janji para politikus di masa kampanye jika tiada gerak realisasi. Atau tidak akan maksimal jika hanya bergerak di satu sisi. Pemerintah dan masyarakat ibarat sepasang roda kendaraan. jika hanya satu roda bergerak, kendaraan tidak bisa jalan. Barangkali hanya bisa berputar-putar di tempat. Tidak ada progess. Dan kerap sia-sia. 

Aku masih termenung dalam kegelisahanku. Aku berdiri pucat di antara lalu lalang orang. Orang-orang tak peduli dengan kondisiku, bahkan kondisi mereka sendiri tak tahu. Tak sadar akan potensi yang mengancam mereka. 

Terpaan angin sesekali menggoyang-goyang tubuhku. Ia semakin bebas membuatku berayun-ayun. Barangkali ini kesempatan baginya untuk mempermainkanku. Tiada pemberat lagi di dalam tubuhku. Aku kesepian, kosong, lapar . Dan aku sekarat.